Kompos

PEMANFAATAN LIMBAH PETERNAKAN

Kompos adalah bahan organik yang sudah terdekomposisi sebagai bahan yang sudah mengandung unsur hara yang siap dimanfaatkan oleh tanaman. Sumber bahan-bahan kompos bisa berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan, limbah industri dan limbah sumber daya laut. Pemanfaatan bahan kimia sebagai bahan tambahan sangat dianjurkan selama untuk mempercepat proses pengomposan atau memperkaya kandungan unsur hara dalam kompos.

Dasar pembuatan kompos adalah menjadikan bahan-bahan yang akan dikomposisikan menjadi bahan yang terdekomposisi dan bisa menyerupai sifat humus dengan memanfaatkan faktor lingkungan yang kondusif. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan pengomposan. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah jenis bahan kompos itu sendiri, suhu, kelembaban dan perkembangan mikroorganisme yang berperan dalam pengomposan. Ada sekitar sejuta mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan yang hidup dalam berbagai fase kondisi lingkungan.

Prinsip pengomposan dibedakan menjadi 2 yaitu aerob dan anaerob. Perbedaan kedua prinsip ini terletak pada ada tidaknya pemanfaatan udara dalam proses dekomposisi yang berpengaruh pada perubahan zat-zat penyusun bahan kompos baik secara fisik, biologi maupun kimia. Pada proses aerob, karbon lebih banyak menguap menjadi karbondioksida. Terjadi reaksi eksotermik dan sangat membutuhkan suhu tinggi sampai 700C. Pada proses ini tidak ada bau busuk. Sementara pada proses anaerob, sumber oksigen berasal dari senyawa kimia yang tidak terlarut dalam oksigen. Bahan organik akan diubah menjadi asam lemak, aldehid dan akan dirubah lagi menjadi gas-gas seperti metan, amoniak dan hidrogen. Energi yang dilepaskan lebih kecil dari proses aerob.

Ketepatan mengkomposisikan bahan kompos dapat berpengaruh terhadap kecepatan pengomposan. Waktu pengomposan akan semakin pendek jika ditambahkan aktivator dalam proses pengomposan. Dengan bantuan mikroorganisme yang ada dalam aktivator dapat semakin mempercepat proses peruraian bahan-bahan penyusun kompos. Berikut adalah bahan-bahan tambahan yang dapat membantu pengomposan. Bahan-bahan ini bisa ditambahkan ketika bahan-bahan penyusun kompos memiliki kekurangan atau akan digunakan khusus untuk lahan yang memiliki kekurangan unsur hara.

Tabel 1. Bahan-bahan tambahan (Aditif) untuk pengomposan.

NO. BAHAN ADITIF KOMPOSISI DAN APLIKASI
1 Kompos standar Kaya mikroorganisme, untuk pematangan bahan dasar
2 Kapur pertanian Jika terjadi kekahatan kalsium dan pH bahan dasar atau tanah terlalu rendah
3 Batuan fosfat Untuk tanah-tanah daerah tropis yang miskin fosfat
4 Pasir Mengandung asam silikat yang penting untuk tanaman
5 Limbah kayu Untuk pengaturan aerasi (oksigen) pengomposan dan mengatur kandungan air
6 Limbah kertas Dalam jumlah sedikit dan tidak boleh mengandung logam berat

Kecepatan proses pengomposan sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme pada saat berlangsungnya pengomposan. Ada beberapa ukuran yang dapat dijadikan sebagai standar untuk proses ini. Berikut adalah beberapa parameter yang sering dijadikan ukuran untuk proses pengomposan (Tabel 2).

Tabel 2. Ukuran Standar Pengomposan

NO. PARAMETER NILAI OPTIMUM
1 Ukuran partikel bahan 25-40 mm
2 Nisbah C/N 20-40
3 Kandungan lengas 50-60 %
4 Keasaman (pH) 5.0-8.0
5 Suhu 55-60 0C (untuk 4-5 hari)
6 Aerasi Secara periodik timbunan dibalik
7 Kehalusan bahan Makin halus makin cepat terdekomposisi
8 Ukuran timbunan Panjang bervariasi, tinggi 1.5 m, lebar 2.5 m
9 Aktivator Tahap awal mesofilik—400C—700C

Pengomposan juga sangat dipengaruhi oleh nisbah C/N dalam bahan-bahan kompos. Biasanya semakin tinggi nisbah C/N maka akan semakin lama proses dekomposisi berlangsung. Nisbah C/N yang tinggi menunjukkan tingginya kandungan karbon. Fungsi karbon dalam proses dekomposisi adalah sebagai sumber energi dan fungsi N untuk membentuk protein. Berikut adalah nisbah C/N dari beberapa bahan kompos (Tabel 3).

Tabel 3. Nisbah C/N Bahan-bahan Kompos

NO. JENIS LIMBAH NISBAH C/N
1 Kotoran ayam (kaya N) 10
2 Kotoran babi dan Jerami 13-18
3 Rumput 12
4 Limbah sayuran 13
5 Kotoran kuda 25
6 Bulu wWol 30
7 Daun jeruk (kaya C) 40-60
8 Buah 35
9 Jerami legume 40-50
10 Abu gergaji 100-500
11 Kertas 200-500

Metode-metode untuk membuat kompos tergantung prinsip pengomposan yang digunakan. Bisa memakai prinsip aerob atau anaerob. Ada yang menggunakan cara sederhana dan tradisional tetapi ada juga yang menggunakan cara cepat dengan menggunakan aktivator. Keberhasilan pengomposan dapat dilihat dari ciri fisik dan kimia dari kompos yang dihasilkan. Berikut adalah beberapa ukuran yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah kompos sudah jadi ataukah belum?

Tabel 4. Perbandingan Kompos Segar dan Kompos

NO. KOMPOS SEGAR KOMPOS MATANG
1 Nitrogen berbentuk ammonium Nitrogen berbentuk ion nitrat
2 Sulfur sebagian berbentuk ion sulfite Sulfur berbentuk ion sulfat
3 Dibutuhkan oksigen tinggi Dibutuhkan oksigen jumlah rendah
4 Konsentrasi hara tinggi Konsentrasi hara rendah
5 Konsentrasi bakteri tanah dan fungi tinggi yang mendekomposisi B.O Konsentrasi bakteri tanah dan fungi lebih tinggi yang terbentuk dari peruaraian senyawa yang mudah terdekomposisi
6 Kapasitas pengikatan air rendah Kapasitas pengikatan air tinggi
7 Tidak ada kompleks lempung-humus Terbentuk kompleks lempung-humus

Kompos yang sudah jadi dapat dilihat dari penampakan fisiknya saja. Umumnya kompos yang sudah jadi memiliki ciri tidak berbau, warna coklat kehitaman, suhu stabil dan lembab (tidak terlalu berair).

Metoda Pembuatan Kompos

Terdapat beberapa metoda pembuatan kompos yang umum dilakukan, yaitu :

a. Windrow system
b. Aerated Static Pile
c. In Vessel

Ketiga sistem ini telah banyak dilakukan  secara luas.  Dari ke tiga sistem tersebut, mana yang dapat menghasilkan kompos yang terbaik tidaklah penting, karena masing-masing sistem mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

1. Windrow System

Windrow system adalah proses pembuatan kompos yang  paling sederhana dan paling murah.  Bahan baku kompos ditumpuk memanjang, tinggi tumpukan 0.6-1 meter, lebar 2-5 meter. Sementara itu panjangnya dapat mencapai 40–50 meter. Sistem ini memanfaatkan sirkulasi udara secara alami. Optimalisasi lebar, tinggi dan panjang tumpukan sangat dipengaruhi oleh keadaan bahan baku, kelembaban, ruang pori, dan sirkulasi udara untuk mencapai bagian tengah tumpukan bahan baku.

Idealnya adalah pada tumpukan bahan baku ini harus dapat melepaskan panas, untuk mengimbangi pengeluaran panas yang ditimbulkan  sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Windrow system ini merupakan sistem proses komposting yang baik dan telah berhasil dilakukan di banyak tempat untuk memproses pupuk kandang, Untuk mengatur temperatur, kelembaban dan oksigen, pada windrow system ini, maka dilakukan proses pembalikan secara periodik. Inilah secara prinsip yang membedakan dari sistem pembuatan kompos yang lain. Kelemahan dari sistem Windrow ini adalah memerlukan areal lahan yang cukup luas.

2. Aerated Static Pile System

Sistem pembuatan kompos lain yang lebih maju adalah Aerated Static Pile. Secara prinsip proses komposting ini hampir sama, dengan windrow system, tetapi dalam sistem ini dipasang pipa yang dilubangi untuk mengalirkan udara.  Udara ditekan memakai  blower. Karena ada sirkulasi udara, maka tumpukan bahan baku yang sedang diproses dapat lebih tinggi dari 1 meter. Proses itu sendiri diatur dengan pengaliran oksigen. Apabila temperatur terlalu tinggi, aliran oksigen dihentikan, sementara apabila temperatur turun aliran oksigen ditambah. Karena tidak ada proses pembalikan, maka bahan baku kompos harus dibuat homogen sejak awal.  Dalam pencampuran harus terdapat rongga udara yang cukup.  Bahan-bahan baku yang terlalu besar dan panjang harus dipotong-potong mencapai ukuran 4–10 cm.

3. In Vessel System

Sistem yang ke tiga adalah sistem In Vessel Composting. Dalam sistem ini dapat mempergunakan kontainer berupa apa saja, dapat silo atau parit memanjang.  Karena sistem ini dibatasi oleh struktur kontainer, sistem ini baik digunakan untuk mengurangi pengaruh bau yang tidak sedap. Sistem ini juga mempergunakan pengaturan udara sama seperti sistem Aerated Static Pile. Sistem ini memiliki pintu pemasukan bahan kompos dan pintu pengeluaran kompos jadi yang berbeda.

Standarisasi Pembuatan Kompos

Kualitas kompos sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan, sedangkan proses pengolahan kompos sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan perbandingan Carbon (C) dan Nitrogen (N) dari bahan baku, maka untuk menentukan standarisasi kompos adalah dengan membuat standarisasi proses pembuatan kompos serta standarisasi bahan baku kompos, sehingga diperoleh kompos yang memiliki standar tertentu.

Standar campuran bahan baku kompos yaitu kelembaban ideal 50–60% dan mempunyai perbandingan C / N bahan baku 30:1, selain kelembaban hal lain yang harus sangat diperhatikan selama proses pembuatan kompos itu berlangsung, yaitu:

1. Temperatur

Temperatur adalah salah satu indikator kunci di dalam pembuatan kompos. Panas yang ditimbulkan sebagai suatu hasil sampingan proses yang dilakukan oleh mikroba untuk mengurai bahan organik. Temperatur ini dapat digunakan untuk mengukur seberapa baik sistem pengomposan ini bekerja, disamping itu juga dapat diketahui sejauh mana dekomposisi telah berjalan. Sebagai ilustrasi, jika kompos naik sampai temperatur 40°C–50°C, maka dapat disimpulkan bahwa campuran bahan baku kompos cukup mengandung bahan Nitrogen dan Carbon dan cukup mengandung air (kelembabannya cukup) untuk menunjang pertumbuhan microorganisme. Pengamatan temperatur harus dilakukan dengan:

  1. menggunakan alat uji temperatur yang dapat mencapai jauh ke dalam tumpukan kompos.
  2. Tunggu sampai beberapa saat sampai temperatur stabil.
  3. Kemudian lakukan lagi di tempat yang berbeda. Lakukanlah pengamatan tersebut di beberapa lokasi, termasuk pada berbagai kedalaman dari tumpukkan kompos. Kompos dapat memiliki kantong-kantong  yang lebih panas dan ada kantong-kantong yang dingin. Semuanya sangat bergantung kepada kandungan uap air (kelembaban) dan komposisi kimia bahan baku kompos.
  4. Maka akan diperoleh peta gradient temperatur. Dengan menggambarkan grafik temperatur dan lokasi-lokasinya sejalan dengan bertambahnya waktu, maka dapat dijelaskan:
    1. Sudah berapa jauh proses dekomposisi berjalan
    2. Seberapa baik komposisi campuran bahan baku
    3. Seberapa rata campuran tersebut dan dibagian mana campuran tidak rata
    4. Dibagian mana sirkulasi udara berjalan normal dan dibagian mana kurang normal.

Pada proses komposting yang baik, maka temperatur 40–50°C dapat dicapai dalam 2–3 hari. Kemudian dalam beberapa hari berikutnya temperatur akan meningkat sampai bahan baku yang didekomposisi oleh mikroorganisme habis. Dari situ barulah temperatur akan turun.

Dari beberapa kali proses pembuatan kompos dengan sistem Windrow, dengan memakai campuran bahan baku kompos terdiri dari kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran kambing, dedak dan jerami, perubahan temperatur mencapai 40–50°C dapat dicapai dalam waktu 3 (tiga) hari. Oleh karena itu pembalikan kompos dilakukan pada hari ke 4 (empat).

Setelah pembalikan pertama temperatur akan turun, lalu naik lagi sampai mencapai 55–60°C pada hari ke 6. Oleh karena itu dilakukan lagi pembalikan ke dua pada hari ke 6 (enam) atau 3 hari setelah pembalikan pertama, setelah pembalikkan temperatur akan turun dan naik lagi sampai 55–60°C pada hari ke 9 (sembilan). Pada hari ke 9 (sembilan) ini atau 3 hari setalah pembalikkan ke dua dilakukan lagi pembalikan ke 3 (tiga).

Apabila komposisi campuran bahan baku tepat, temperatur akan stabil sampai hari ke 12 (dua belas) dan seterusnya, untuk kemudian turun dan stabil pada temperatur tertentu. Pada hari ke 14 tumpukan kompos dapat mulai dibuka untuk didinginkan dan kemudian selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepakan.

2. Kelembaban

Pembuatan kompos akan berlangsung dengan baik pada satu keadaan campuran bahan baku kompos yang memiliki kadar uap air antara 40–60% dari beratnya. Pada keadaan level uap air yang lebih rendah, aktivitas mikroorganisme akan terhambat atau berhenti sama sekali. Pada keadaan level kelembaban yang lebih tinggi, maka prosesnya kemungkinan akan anerobik, yang akan menyebabkan timbulnya bau busuk.

Bahan baku kompos yang dipilih untuk kemudian dicampur, kadar uap air dapat diukur. Setelah proses pembuatan kompos berlangsung, pengukuran kelembaban tidak perlu diulangi, tetapi dapat langsung diamati tingkat kecukupan kandungan uap air tersebut. Apabila proses pembuatan kompos sedang berjalan, lalu kemudian muncul bau busuk, sudah dapat dipastikan kompos mengandung kadar air berlebihan. Kelebihan uap air ini telah mengisi ruang pori, sehingga menghalangi diffusi oksigen melalui bahan-bahan kompos tersebut. Inilah yang membuat keadaan menjadi anaerobik. Pencampuran bahan baku dengan potongan 4–10 cm, seperti bahan jerami, potongan kayu, kertas karton, serbuk gergaji dan lain-lain dapat mengurangi permasalahan ini.

Apabila melakukan pembuatan kompos dengan memakai sistem aerated static pile ataupun sistem in Vessel, berhati-hatilah dalam menambahkan udara (oksigen), jangan sampai menyebabkan kompos menjadi kering. Indikasinya adalah perhatikan temperatur, jika temperatur menurun lebih cepat dari biasanya, maka ada kemungkinan kompos terlalu kering.

3. Odor atau Aroma

Jika proses pembuatan kompos berjalan dengan normal, maka tidak boleh menghasilkan bau yang menyengat (bau busuk). Walaupun demikian dalam pembuatan kompos tidak akan terbebas sama sekali dari adanya bau. Dengan memanfaatkan indra penciuman, dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi selama proses pembuatan kompos. Jika tercium bau amonia, berarti campuran bahan kompos kelebihan bahan yang mengandung unsur Nitrogen (ratio C/N terlalu rendah). Untuk mengatasinya dapat ditambahkan bahan-bahan yang mengandung C/N tinggi, berupa:

  1. Potongan jerami, atau
  2. Potongan kayu, atau
  3. Serbuk gergaji, atau
  4. Potongan kertas koran dan atau karton dan lain-lain.

Jika tercium bau busuk, mungkin campuran kompos terlalu banyak mengandung air. Apabila ini terjadi, lakukanlah pembalikan (pada sistem windrow), tambahkan oksigen pada sistem Aerated Static Pile atau In Vessel.

4. pH

Pengamatan pH kompos berfungsi sebagai indikator proses dekomposisi kompos. Mikroba kompos akan bekerja pada keadaan pH netral sampai sedikit masam, dengan kisaran pH antara 5.5-8. Selama tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam-asam organik. Kondisi asam ini akan mendorong pertumbuhan jamur dan akan mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses pembuatan kompos berlangsung, asam-asam organik tersebut akan menjadi netral dan kompos menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6–8. Jika kondisi anaerobik berkembang selama proses pembuatan kompos, asam-asam organik akan menumpuk. Pemberian udara atau pembalikan kompos akan mengurangi kemasaman ini. Penambahan kapur dalam proses pembuatan kompos tidak dianjurkan. Pemberian kapur (Kalsium Karbonat, CaCo3) akan menyebabkan terjadinya kehilangan nitrogen yang berubah menjadi gas Amoniak. Kehilangan ini tidak saja menyebabkan terjadinya bau, tetapi juga menimbulkan kerugian karena menyebabkan terjadinya kehilangan unsur hara yang penting, yaitu nitrogen. Nitrogen sudah tentu lebih baik disimpan dalam kompos untuk kemudian nanti digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.

Pembuatan Kompos Yang Sederhana dan Praktis

Metoda pembuatan kompos yang paling sederhana dan paling murah, yaitu metoda Windrow. Dalam pelaksanaan pembuatannya, beberapa penyesuaian dan perubahan yang disesuaikan dengan keadaan setempat di beberapa lokasi pengolahan.

  1. 1. Penyiapan Bahan
    1. Bahan hijauan, bahan yang berwarna hijau biasanya banyak mengandung Nitrogen (N) tinggi, diantaranya kotoran ternak (sapi, kerbau, ayam, kambing atau babi), daun kacang-kacangan, daun jagung, limbah pertanian segar, potongan rumput segar dan lain-lain.
    2. Bahan coklatan, bahan yang berwarna coklat biasanya banyak mengandung Carbon (C) tinggi, diantaranya jerami padi, serbuk gergaji, coco peat, dedak, sekam, potongan kayu, potongan kertas, dan lain-lain.
    3. Bahan lain, limbah rumah tangga, abu dapur.
    4. Untuk bahan tertentu yang berukuran besar atau panjang seperti jerami, batang jagung, belukar, agar bahan kompos mudah terdekomposisi, maka bahan sebaiknya harus dihaluskan dengan cara dicincang dengan ukuran 4–10 cm.

2. Penyiapan Alat

Alat-alat yang diperlukan antara lain :

    1. Tempat pembuatan kompos, sebaiknya ada naungan.
    2. Sekop,
    3. Cangkul garpu
    4. Gembor/embrat
    5. Drum air
    6. Ember
    7. Lembaran plastik penutup
    8. Termometer
    9. Alat timbang
  1. 3. Penyusunan Bahan Baku
    1. Susun kompos berdasarkan ketersediaan bahan baku. Sebaiknya bahan yang mengandung karbon tinggi terlebih dahulu disimpan paling bawah sebagai alas. Misalnya jerami, serbuk gegaji, sekam atau coco peat.
    2. Selanjutnya di atas bahan tadi susun kotoran ternak seperti kotoran sapi, kambing, ayam

Susunan bahan baku yang biasa dilakukan adalah:

  1. Jerami (paling bawah)
  2. Kotoran sapi
  3. Serbuk gergaji
  4. Kotoran kambing
  5. Kotoran ayam, dan lain-lain.

Proses penyusunan bahan kompos ini dapat dilakukan sampai ketinggian 1 m.

4. Mencampur Kompos

Setelah bahan disusun lengkap, kemudian setahap demi setahap bahan dicampur sampai rata, sambil dilihat kelembabannya, apabila kurang lembab, tambahkan air, sambil ditambahkan bahan aktivator atau fermentor.

Setelah bahan dicampur rata dengan kelembaban yang cukup dan lengkap dengan penambahan fermentornya, lalu ditumpuk kembali seperti semula, sampai ketinggian 1 m, membentuk bedengan memanjang, lebar antara 2-5 m dan panjang bisa sampai 50 m. Tumpukan kompos kemudian ditutup terpal plastik, supaya jangan kena sinar matahari langsung atau kehujanan. Pada waktu menutup perhatikan supaya tetap ada jalan untuk sirkulasi udara.

5. Mengukur Temperatur

Pengukuran temperatur dilakukan setiap hari pada beberapa titik kemudian dicatat. Hasil pemetaan pengukuran dapat memberikan indikasi tentang proses pembuatan kompos, apakah pencampuran sudah baik dan benar?, apakah komposisi seimbang?, apakah kelembaban memadai?.

6. Membalik Kompos

Pada hari ke 4 komposting, saat pembalikan kompos yang pertama, perhatikan pada titik titik no 2, 7, 8, 9, 14, amati kelembabannya, campuran bahan dan siklus oksigennya. Apabila kurang lembab, atau campuran kurang rata, atau siklus oksigen tidak lancar, maka pada saat membalik harus sambil dilakukan pencampuran ulang dengan kompos dari tempat yang mempunyai temperatur tinggi, yang kelembaban atau campuran atau siklus oksigennya baik. Lakukan pengamatan temperatur pada hari berikutnya, petakan, kemudian amati. Apabila masih ada yang kurang rata. Apabila tindakan dilakukan dengan benar, maka pada pembalikan berikutnya perbedaan temperatur sangat kecil dan relatif rata. Pembalikan kompos selain dengan mempergunakan peta temperatur, juga harus dilakukan dengan cara :

  1. Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan dari atas ke bawah
  2. Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan dari tengah ke luar, ke kiri dan ke kanan
  3. Membalik, mencampur dan menyimpan tumpukan samping, kiri dan kanan ke tengah
  4. Membalik, mencampur dan menyusun tumpukan dari tengah bawah ke atas
  5. Apabila proses pembalikkan kompos sudah 4 kali, amati perubahan warna, aroma dan temperatur. Apabila warnanya sudah berubah menjadi coklat kehitaman, kemudian aroma kompos menyerupai aroma tanah, maka proses komposting sudah selesai. Tinggal menunggu penurunan temperatur.

7. Penyaringan

Setelah proses pengomposan selesai, kemudian dilakukan stabilisasi temperatur, maka tahap berikutnya adalah penyaringan untuk memperoleh ukuran yang seragam dan penampilannya menjadi lebih baik. Apabila telah diayak, maka pada waktu penerapan di lapangan akan jauh lebih mudah.

Aktivator Kompos

Dalam proses pembuatan kompos ada yang mengunakan bahan aktivator untuk mempercepat proses komposting, Beberapa bahan aktivator yang dikenal dan beredar di antara lain:

  1. OrgaDec
  2. Stardec
  3. EM-4
  4. Harmony
  5. Starbio
  6. Fix-up plus, dan lain-lain

Proses pembuatan kompos yang mengunakan larutan effective microorganisme 4 yang disingkat EM-4. Dalam EM 4 ini terdapat sekitar 80 genus microorganisme fermentor. Microorganisme ini dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Secara global terdapat 5 golongan yang utama yaitu:

  1. Bakteri fotosintetik

Bakteri ini merupakan bakteri bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Hasil proses metabolisme yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.

2. Lactobacillus sp

Bakteri yang memproduksi asam laktat sebagai hasil penguaraian gula dan karbohidrat lain yang bekerjasama dengan bakteri fotosintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi yang kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan dapat menguraikan bahan organik dengan cepat.

3. Streptomycetes sp

Streptomycetes sp. mengeluarkan enzim streptomysin yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan.

4. Ragi (yeast)

Ragi memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar. Ragi ini juga berperan dalam perkembangan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain seperti Actinomycetes dan bakteri asam laktat.

5. Actinomycetes

Actinomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi bakteri fotosintesis dan merubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen, menekan jamur dan bakteri berbahaya dengan cara menghancurkan khitin yaitu zat esential untuk pertumbuhannya. Actinomycetes juga dapat menciptakan kondisi yang baik bagi perkembangan mikroorganisme lain.

Pembuatan Aktivator Kompos

Bahan baku :

  1. Induk EM-4               : 1 liter
  2. Air Kelapa                 : 1 liter
  3. Molase atau air gula              : 1 liter
  4. Ditambahkan air     : 7 liter

Cara pembuatan :

  1. Campurkan ke empat bahan
  2. Masukkan dalam tempat tertutup seperti botol air mineral, jerigen atau drum
  3. Diamkan sampai keluar gas
  4. Setiap hari gas yang dihasilkan dibuang
  5. Setelah 14 hari bahan siap dipakai.

Cara Pemakaian :

  1. Aktivator yang telah dibuat dengan cara diatas ditambah 10 liter air kelapa
  2. Ditambah 10 liter air gula/molase
  3. Ditambah 70 liter air
  4. Diamkan selama 1 hari 1 malam
  5. Campurkan ke kompos yang akan dibuat
  6. Larutan 100 liter EM-4 dapat dipakai untuk campuran 2.000 kg bahan baku kompos.

Berikut adalah salah satu teknik pembuatan kompos kotoran domba dengan sistem aerob. Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Bahan :

  1. 10 Karung Kotoran domba (@ 30-35 Kg/karung)
  2. Karung Sisa hijauan/jerami padi (@ 10-15 Kg/karung)
  3. Karung Arang sekam (@ 10-15 Kg/karung)
  4. 10 Kg Dedak
  5. 1 Kg Kapur Pertanian (Kaptan)
  6. 200 ml Mollase
  7. 200 ml Fermentator (EM4)
  8. 20 liter Air

Cara Pembuatan :

  1. Hamparkan sisa hijauan membentuk persegi dengan tinggi ± 10 cm dan tambahkan lapisan di atasnya kotoran domba, arang sekam, dedak dan kapur secara bergantian
  2. Buat larutan Mollase, Fermentator dan air
  3. Siramkan larutan fermentator di atas tumpukan bahan
  4. Aduk sampai merata
  5. Hamparkan kembali tumpukan yang sudah diaduk rata dengan ketebalan 20-30 cm
  6. Tutup hamparan tersebut dengan karung dan biarkan sampai suhu naik 40-50 0C
  7. Upayakan suhu tetap stabil dengan cara dibolak-balik dan tunggu sampai ± 14 hari

One Response to Kompos

  1. dombafarm says:

    semoga bermanfaat……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s