Biosecurity

SANITASI DAN PENGENDALIAN PENYAKIT PADA TERNAK

I. SANITASI

Sanitasi didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dalam rantai perpindahan penyakit tersebut. Penerapan dari prinsip-prinsip sanitasi adalah untuk memperbaiki, mempertahankan atau mengembalikan kesehatan yang baik pada ternak dan manusia. Prinsip sanitasi yaitu bersih secara fisik, bersih secara kimiawi (tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan) dan bersih secara mikrobiologis.

Kontaminasi mikroorganisme dapat terjadi pada semua titik dalam proses produksi. Oleh karenanya sanitasi harus diterapkan pada semua proses produksi ternak dan penanganan pasca panen. Resiko terjadinya penyakit pada ternak dan juga manusia dipengaruhi oleh interaksi antara 3 komponen yaitu ternak, lingkungan dan mikroorganisme.

Sanitaiser harus mempunyai sifat sebagai berikut:

  1. Merusak mikroorganisme,
  2. Ketahanan terhadap lingkungan,
  3. Sifat-sifat membersihkan yang baik,
  4. Tidak beracun dan menyebabkan iritasi,
  5. Larut dalam air,
  6. Bau yang ditimbulkan dapat diterima,
  7. Stabil dalam larutan pekat dan encer,
  8. Mudah digunakan,
  9. Banyak tersedia, murah dan mudah diukur dalam larutan yang telah digunakan.

Sanitasi diperlukan terutama untuk memenuhi standar manajemen yang telah ditentukan, untuk memenuhi peraturan perundangan berlaku serta standar produk perusahaan, dan untuk mengurangi resiko kerusakan bahan pangan dengan adanya kontaminasi mikroorganisme.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sanitasi adalah :

  1. Ruang dan alat yang akan disanitasi,
  2. Metode yang akan digunakan,
  3. Bahan atau zat kimia serta aplikasinya,
  4. Monitoring program sanitasi,
  5. Harga bahan kimia yang akan digunakan,
  6. Keterampilam pekerja
  7. Sifat bahan atau produk dimana kegiatan tersebut akan dilakukan.

Jika dengan menggunakan pemanasan air diperkirakan sudah dapat mengatasi masalah maka penggunaan bahan kimia sebaiknya dihindarkan. Pemakaian bahan kimia hendaknya juga menggunaan bahan yang aman baik untuk pekerja, bahan makanan atau daging dan tidak menimbulkan residu yang berbahaya.

Desinfektan yang biasa digunakan untuk sanitaiser dikelompokkan dalam delapan grup yaitu:

  1. Alkohol larut, Contoh: etanol, isopropil alkohol, Cara kerja: koagulasi protein dan melarutkan membran, Konsentrasi   : 70 – 90%
  2. Gas Sterilisasi, Contoh: etilen oksida, Cara Kerja: substitusi grup alkil di dalam sel dengan atom H yang labil.
  3. Gas Desinfektan, Contoh: formaldehid, Konsentrasi: larutan jenuh atau dalam bentuk gas
  4. Halogen, Contoh: khlorin, yodium, Cara kerja: oksidasi grup sulfhidril bebas, Konsentrasi: hipokhlorit (konsentrasi tertinggi)
  5. Fenol, Contoh: kreosol. Fenol semi sintetis, lisol, Cara kerja: koagulasi protein, menyebabkan kebocoran membran sel, Konsentrasi   : kreosol – 2%, Lisol – 1%
  6. Deterjen Kationik, Cara kerja: pengerutan membran sel dan merusak permeabilitasnya, Konsentrasi   : larutan 1/1000 – 1/5000
  7. Deterjen anionik, Contoh: heksakhlorfen (G-11), tetrakhlorsalisilanilida, Konsentrasi: heksakhlorfen – septisol 2%, pHisoHex 3%
    • Alkali : larutan NaOH sering digunakan veteriner untuk mencuci dan untuk desinfeksi kandang
    • Hidrogen peroksida : dalam konsentrasi 3% digunakan untuk mencuci dan mendesinfeksi luka.
    • Sabun: aktifitas bakterisidalnya lemah tetapi efektif untuk mencuci atau menghilangkan jasad renik.
    • Komponen biguanida: misalnya khlorheksidin, bersifat bakterisidal, tetapi tidak efektif terhadap virus, spora, dan bakteri, biasanya dicampur dengan deterjen kationik.
  8. Dialdehida, Spektrum aktifitasnya paling luas, yaitu bersifat bakterisidal, virusidal, fungisidal, dan sporasidal.

Sanitasi Lingkungan Peternakan

Sanitasi di lingkungan  peternakan meliputi :

1. Sanitasi kandang

Sanitasi yang dilakukan untuk mensucihamakan kandang termasuk didalamnya adalah peralatan yang ada di dalam kandang.

  • Pembersihan dan penyemprotan kandang dilakukan sebelum hewan masuk dengan menggunakan desinfektan yang telah direkomendasikan dan ramah lingkungan. Hal ini dilakukan untuk membersihkan kandang dari kuman penyakit.
  • Pembersihan peralatan kandang, seperti tempat pakan dan tempat minum
  • Pembersihan lantai kandang dilakukan secara rutin 2-3 hari sekali
  • Pembuangan kotoran ternak sebaiknya dibuatkan tempat pembuangan sendiri yang agak jauh dari lokasi kandang

2. Sanitasi hewan,

Sanitasi hewan dilakukan dengan peyemprotan ketika hewan masuk dalam lingkungan peternakan beserta sarana pengangkutnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyebaran bibit penyakit yang berasal dari hewan atau mikroorganisme selama pengangkutan.

3. Sanitasi pekerja

Sanitasi dilakukan kepada setiap pekerja yang ada di kandang. Hal ini dimaksudkan agar mobilitas pekerja dari kandang satu dengan kandang lainnya tetap terjaga dalam kondisi bebas penyakit sehingga penyebaran kuman penyakit bisa terhindarkan.

4. Sanitasi terhadap sarana dan prasarana di lingkungan peternakan.

Sanitasi ini dilakukan untuk menjaga dan mengantisipasi penyebaran bibit penyakit di lingkungan peternakan yang disebabkan oleh penggunaan sarana dan prasarana secara bergantian di masing-masing kandang.

Rekomendasi Umum Untuk Sanitaiser

Tujuan Senyawa yang direkomendasikan
Jenis Mikroba
Spora bakteri

Bacteriophage

Coliform

Salmonella

Psikotrops Gram ( – )

Sel Vegetatif Gram (+)

Virus

Kondisi Air

Air sadah

Air dengan kadar besi tinggi

Penanganan air

Ruang/Peralatan

Peralatan aluminium

Udara berkabut

Sanitasi tangan

Peralatan pada saat akan digunakan

Peralatan akan disimpan

Dinding

Permukaan porous

KhlorinKhlorin, antionik-asam

Hipokhlorit, iodophore

Hipokhlorit, iodophore

Khlorin

Quat, iodophore, khlorin

Khlorin, iodophore, anion-asam

Anionik-asam, hipokhlorit, Iodo-phore

Iodophore

Hipokhlorit

Iodophore, quat

Khlorin, iodophore,

Quat Iodophore Iodophore,

Khlorin

Quat

Quat, khlorin

Khlorin, quat

II. Pengendalian Penyakit pada Ternak

Pengendalian penyakit hewan adalah upaya mengurangi hubungan antara penyebab penyakit sampai pada tingkat dimana hanya sedikit hewan yang sakit, karena jumlah penyebab penyakit telah dikurangi atau dimatikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian penyakit antara lain :

  1. Menjaga kesehatan ternak,
  2. Mempertahankan penampilan ternak agar tetap baik,
  3. Memperhatikan komposisi bahan pakan,
  4. Ketersediaan zat nutrisi yang baik dan seimbang
  5. Mengoptimalkan pemakaian limbah pertanian yang ada.

1. Ukuran Keberhasilan Pengendalian Penyakit

Untuk mengukur keberhasilan pengendalian penyakit harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini, yaitu:

  1. Angka sakit (morbiditas), diukur dari banyak tidaknya jumlah ternak yang sakit.
  2. Angka Kematian (mortalitas), diukur atau diamati oleh banyak tidaknya jumlah ternak yang mengalami kematian.
  3. Angka kecelakaan atau kasus yang terjadi misalnya patah tulang, jatuh dll
  4. Jumlah kelahiran ternak/tingkat reproduksi dicapai.
  5. Pencapaian pertambahan bobot badan
  6. Kejadian penyakit yang berulang dalam satu musim
  7. Kerusakan karkas atau daging

Beberapa prinsip dasar yang harus dilakukan berkaitan dengan program kesehatan ternak antara lain:

1. Mencegah timbulnya suatu organisme penyebab penyakit.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya bibit penyebab penyakit antara lain :

  1. Melakukan sanitasi/kebersihan secara baik, benar dan teratur, yang menjadi tanggungjawab staff produksi.
  2. Biasakan memisahkan ternak yang baru datang terlebih dahulu untuk beberapa saat,
  3. Menjaga lingkungan tetap baik
  4. Jika perlu ternak yang sering sakit-sakitan dikeluarkan/dipisahkan ke kandang karantina.

2. Menjaga agar ketahanan tubuh ternak tetap baik

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :

  • Jagalah kebutuhan pakan untuk tetap baik, cukup dan seimbang,
  • Jika di daerah tersebut sering muncul penyakit menular, kontak dengan petugas kesehatan hewan setempat untuk diupayakan adanya vaksinasi massal terhadap ternak yang ada.
  • Melakukan program seleksi ternak secara baik dan teratur.
  • Mengurangi penyebaran penyakit

Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah:

  1. Jika ada ternak yang sakit harus segera dipisahkan ke kandang isolasi untuk pengobatan lebih lanjut.
  2. Segera lakukan pengamatan secara mendalam pada ternak-ternak yang lain apakah ada tanda-tanda sakit atau tidak misalnya tingkah laku ternak, tanda-tanda fisiknya, nafsu makan dan sebagainya,
  3. Jika perlu upayakan pengobatan sementara.
  4. Melakukan sistem pencatatan (produksi dan reproduksi) secara teratur.

2. Diagnosa Secara Fisik

Penyakit pada kambing/domba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

Penyakit menular, yaitu penyakit yang dapat menyebar dari satu ternak ke ternak lainnya. Berdasarkan agen penyebabnya, kelompok penyakit menular dibagi menjadi :

  • Kelompok penyakit Viral yaitu penyakit yang disebabkan virus misalnya Penyakit Mulut dan Kuku, Kutil dan lain-lainnya,
  • Kelompok penyakit Bakterial, yaitu penyakit yang disebabkan bakteria misalnya Ingusan Meloidosis (disebabkan oleh Psedumonas mallei), Desentri Anak (Karena Cl. Perfingens), Mencret putih (karena E. colli), Antrax (Bacillus Antraxis), Keluron Menular (Brucellla melitensis) dan lain-lainnya,
  • Kelompok penyakit Parasiter, yaitu penyakit yang disebabkan parasit misalnya Scabies Kudis  (Sarcoptes scabei), Mencret karena cacing (Haemonchus contortus), Jantung Berair (Rickettsia Cowdia), Radang paru-paru (Mycoplasma sp), dan lain-lainnya,
  • Kelompok penyakit fungal, yaitu penyakit yang disebabkan jamur.
  • Penyakit tidak menular yaitu penyakit yang biasanya hanya terbatas pada satu kelompok tertentu atau bersifat individual.

Penyakit tidak menular, berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi :

  1. Kelompok penyakit defisiensi, penyakit yang disebabkan karena kekurangan unsur dalam zat pakannya misalnya defisiensi vitamin, mineral dan lainnya,
  2. Kelompok penyakit intoksikasi, keracunan misalnya intoksikasi insektisida, pestisida dan lainnya,
  3. Penyakit metabolik, yang disebabkan adanya gangguan metabolik misalnya bloat atau kembung perut,
  4. Penyakit genetis, yang disebabkan keturunan misalnya osteodystropia
  5. Penyakit mekanis karena terkena benda-benda keras seperti fraktur, terjepit dan lainnya.

Secara visual ternak sakit dan sehat dapat dibedakan sebagai berikut:

Ternak Sehat Ternak Sakit
Ternak aktif, lincah, mata jernih, bulu halus, bersih dll Ternak kurang aktif/lincah, mata sayu/pucat, bulu kusam dll
Nafsu makan normal Kurang nafsu makan, sedikit/cenderung tidak mau makan
Pertumbuhan baik (pertambahan berat badan) Pertumbuhan kurang baik atau tidak normal
Dari lubang alami (hidung, mulut, anus dan anus) tidak keluar cairan atau feses abnormal Keluar leleran atau lendir yang tidak normal dari lubang-lubang alami (seperti hidung, telinga dll) misalnya pilek, diare/mencret dll

3. Pemeriksaan fisiologi ternak dan Diagnosa Fisik pada ternak

Pengukuran suhu tubuh sapi dan domba

Dilakukan dengan cara:

  1. Tenangkan ternak pada tempat yang teduh atau di kandang.
  2. Termometer yang akan digunakan sudah dalam keadaan bersih dan kering serta sudah distandarisasi.
  3. Angkat ekor ternak secara hati-hati ke atas kemudian masukkan ujung termometer (1/3 bagian) ke dalam rektum selama kira-kira 2 – 4 menit, kemudian amati berapa temperatur tubuh sapi dan domba.

Menghitung denyut nadi dan frekuensi pernafasan ternak sapi dan domba

Dilakukan dengan cara:

  1. Tenangkan ternak pada tempat yang teduh atau di kandang.
  2. Angkat ekor ke atas (jangan terlalu ke atas), asal kita dapat memegang vena coccygealis, kira-kira 8 – 10 cm dari pangkal ekor, Vena coccygealis letaknya di bagian tengah bagian bawah, kemudian hitung berapa denyut nadi selama 1 menit (ulangi 3 kali) kemudian catat dan rata-ratakan.

3. Menghitung frekuensi pernafasan ternak sapi dan domba

Dilakukan dengan cara menggunakan telapak tangan bagian luar kemudian letakkan kira-kira 5–7 cm di depan hidung sapi, hitung berapa gerakan atau frekuensi pernafasan selama 1 menit.

Diagnosa fisik pada ternak kambing/domba dilakukan setiap setiap hari. Langkah-langkah diagnosa secara fisik :

  1. Pengamatan dapat dilakukan dengan cara melihat atau memandang bagaimana kondisi ternak tersebut apakah lesu,nafsu makan turun atau rendah berjalan wajar, aktif atau ada tanda-tanda kesakitan dan perubahan tubuh atau sebagian tubuhnya.
  2. Mengamati fisiologik ternak tersebut (frekuensi nafas, temperatur, denyut nadi, frekuensi rumen dll) apakah normal atau tidak. Perhatikan cermin hidung, kering atau tidak, adakah cairan atau lendir, feses yang abnormal dll.
  3. Amati kelopak mata atau bibir mulut, untuk mengamati selaput dan karakter selaput lendirnya misalnya untuk mengetahui adanya keradangan, anemia dll.
  4. Rabalah kalau-kalau ada benjolan atau daerah yang mengalami keradangan, abses dll.
  5. Perhatikan adanya gangguan suara, gemeretak gigi. Jika perlu gunakan stetoskop untuk mengetahui suara aneh di rongga dada dan perut.
  6. Periksa mata terhadap kemungkinan penyakit pada mata.
  7. Periksa terhadap kemungkinan kembung perut.
  8. Periksa semua lubang tubuh untuk melihat kemungkinan diare, ingusan dll.

3 Responses to Biosecurity

  1. min, bisa minta referensi yg dipakai menulis ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s