CiptaPersada Aqiqah

This gallery contains 2 photos.

Gallery | Leave a comment

Isu Linkungan yang Penting bagi Industri Penyamakan Kulit

Oleh: Prof. Dr. Ir. Suharjono Triatmojo, M.S.

Isu lingkungan yang penting dalam memproduksi kulit samak adalah pemakaian bahan kimia, penggunaan air, kesehatan pekerja dan bau yang ditimbulkan.

Bahan kimia
Proses penyamakan kulit memerlukan banyak macam bahan kimia untuk mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak yang lemas, lentur, menarik dan tahan lama. Bahan kimia ini tidak seluruhnya terikat pada substansi kulit tetapi sebagian ditemukan pada limbah cair dan padat yang dihasilkan. Bahan kimia ini dapat mencemari sumber air bagi masyarakat, baik air permukaan maupun air tanah. Bila pemakaian bahan kimia melebihi kebutuhan maka menjadi tidak efisien, biaya produksi meningkat dan meningkatkan pencemaran lingkungan. Pemakaian bahan kimia yang efisien menurunkan biaya produksi dan menurunkan beban cemaran.

Penggunaan air
Produksi kulit samak merupakan industri yang menggunakan banyak air, oleh karena itu perlu adanya pengukuran dan kontrol konsumsi air, dan ini merupakan langkah penting dalam manajemen air. Minimasi konsumsi air dalam industri kulit dapat dilakukan
dengan pengurangan, daur-ulang dan pemanfaatan kembali air dalam proses produksi kulit (IULTSC, 2004). Jika pabrik menggunakan air sumur maka penggunaan air yang berlebih dapat mengakibatkan terkurasnya ketersediaan air tanah di masa mendatang atau bagi masyarakat di sekitarnya. Pengurangan pemakaian air (misal dengan
low float processing dan bath tipe washing) dapat menekan konsumsi air sampai 30% (IULTCS, 2004; Anonimous, 2009). Daur ulang pada tahapan soaking, liming, unhairing, pickling dan tanning dapat menghemat pemakaian air 20-40% (IULTCS, 2004).

Kesehatan pekerja
Bahan kimia yang dipakai dalam penyamakan kulit dapat membahayakan pekerja, mereka dapat terkena larutan asam atau basa kuat, menghirup gas-gas beracun, maupun teriritasi oleh logam berat. Gejala yang ditimbulkan seperti sesak nafas, iritasi kulit, sampai pingsan. Pekerja yang kurang sehat dapat menurunkan produktivitas kerja.

Cemaran bau
Penyamakan kulit sering menghasilan limbah yang menyengat baunya. Bau yang tajam dapat merusak kualitas kehidupan dan dapat mengurangi dukungan masyarakat di sekitar pabrik. Pengendalian bau dengan cara meningkatkan teknik penanganan limbah, atau mendaurulang limbah dapat meningatkan hubungan dengan masyarakat sekitar pabrik.

Implementasi “Produksi Bersih” pada Penyamakan Kulit

Pengawetan kulit 

Sebelum masuk proses penyamakan, kulit mentah setelah lepas dari tubuh ternak harus segera diawetkan dengan garam atau mengeringkannya di bawah sinar matahari agar tidak cepat rusak.

Cara – cara pengawetan kulit yang benar akan sangat menentukan kualitas kulit samaknya (Aloy, 1993). Metode curing yang umum digunakan adalah penggaraman, bisa garam kering maupun garam basah.. Garam pengawet dapat dikurangi atau dihilangkan sebagian(sekitar 10%) dari kulit awetan dengan cara diambil dengan tangan, dikibas-kibaskan maupun diambil secara mekanis dengan sikat atau diputar di dalam drum yang sesuai (perforated drum) (IULTCS,2004).

Garam yang diambil dapat digunakan untuk proses pikel asal dilarutkan dan diambil padatannya lebih dulu sebelum digunakan. Garam tidak boleh digunakan lagi untuk mengawet kulit karena kandungan bakterinya sangat tinggi (terutama bakteri tahan garam, halofilik dan halotoleran) sehingga akan merusak kulit yang disebut dengan red heat. Garam yang sudah digunakan untuk mengawet kulit dapat digunakan kembali (reuse) sebagai bahan pengawet asal dipanaskan lebih dulu di dalam tanur suhu 400 oC guna membunuh bakteri dan menguapkan bahan organiknya.

Kedua metode ini dapat menjawab permasalahan pencemaran oleh garam baik pencemaran terhadap lahan maupun air tanah. Pengawetan dengan garam tidak dapat dipandang sebagai teknologi bersih sekalipun fleshing telah mengurangi limbah garam. Pengawetan dengan garam merupakan kontributor utama pencemaran garam oleh pabrik penyamakan kulit, sehingga harus dicari pengganti pengawet kulit yang lebih ramah lingkungan. Miwada (2001) telah meneliti penggantian NaCl dengan KCl dengan hasil bahwa kulit yang diawet dengan KCl, setelah disamak kulitnya mempunyai kualitas yang sama dengan yang diawet dengan NaCl. Miwada berkesimpulan bahwa KCl dapat digunakan sebagai pengawet alternatif pengganti garam dapur (NaCl). Garam ini aman digunakan sebagai bahan pengawet dan limbahnya tidak membahayakan tanaman, bahkan bermanfaat bagi tanaman karena merupakan unsur hara bagi tamanan.

Guna mengurangi pemakaian garam maka sebagai bahan baku penyamakan kulit dapat menggunakan kulit segar. Namun kulit segar ini sangat mudah rusak dan busuk bila tidak segera disamak. Kulit yang tidak segera disamak harus disimpan pada suhu rendah sekitar 4oC selama 18 jam. Kulit juga dapat disimpan dengan es, namun ada kelemahannya yaitu es mudah mencair, jadi tidak dapat digunakan untuk mengawet kulit terlalu lama. Kulit setelah lepas dari tubuh ternak hanya tahan beberapa jam saja (kurang dari 6 jam), bila lebih kulit akan mengalami lisis dan tidak baik lagi untuk disamak (Sarkar, 1995). Guna menghambat pertumbuhan bakteri dan aktivitas enzim, sebaiknya kulit disimpan pada suhu refrigerasi (dibawah 5oC). Kulit yang ditumpukpada suhu ruang juga akan cepat rusak karena metabolisme bakteri menghasilkan panas, dan ini akan mempercepat kerusakan. Oleh karena itu penyimpanan kulit diruangan sebaiknya secara individual
dan digantung di dalam ruang dengan suhu rendah. Untuk kulit yang akan diantar pulaukan, kulit juga sebaiknya disimpan pada suhu refrigerasi atau diawet dengan cara dikeringkan dengan sinar matahari.

Cara pengawetan dengan sinar matahari dianjurkan untuk daerah tropis, namun pengawetan dengan sinar matahari juga ada kekurangannya yaitu kulit tidak mudah dikembalikan pada kondisi semula dan memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk
pembasahan kembali (rehydration) sewaktu proses perendaman.

Soaking dan unhairing
Soaking merupakan tahapan pre-tanning paling awal. Soaking diperlukan untuk melarutkan dan mengelimir garam dan protein globular yang ada di antara serabut kolagen (Kamini et al., —). Kulit awetan direndam di dalam air dingin untuk menghilangkan garam pengawet, darah dan kotoran yang melekat, disamping itu juga untuk mengembalikan air yang hilang selama pengawetan (Sharpouse, 1983;
Sarkar, 1995). Perendaman ini dilakukan selama dua jam sampai beberapa hari (7 hari) tergantung pada suhu air (10-20oC) dan ketebalan kulit. Untuk kulit tebal memerlukan waktu yang lebih lama daripada kulit tipis. Perendaman pada suhu tinggi sangat berbahaya
karena mikroorganisme tetap dapat berkembang biak dan merusak kulit. Teknologi bersih yang dapat diterapkan pada tahapan ini disamping penggunaan antiseptik atau biosid adalah fleshing setelah soaking.

Keuntungannya adalah hasil ikutan yang berupa daging danlemak lebih bersih dan belum terkontaminasi bahan kimia sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan maupun pakan ternak. Sekarang sudah dikembangkan perendaman dengan enzim asal
mikroba untuk mempercepat proses produksi kulit samak. Perendaman secara enzimatis dimaksudkan untuk mempercepat proses pembasahan kembali serta menyerang lemak dan protein non kolagen yang ada diantara serabut kolagen (Thanikaivelan et al., 2004),
membuang sisa kotoran, feses dan darah yang menempel di kulit. Enzim yag digunakan dalam soaking kulit adalah protease dan karbohidrase (Kamini et al.,—-; Thanikaivelan et al., 2004) yang diproduksi oleh bakteri maupun jamur. Keuntungan pemakaian enzim
untuk soaking adalah memperpendek waktu prosesing, mempermudah pelepasan scud, menginisiasi pembukaan serabut kolagen, dan menghasilkan kulit yang halus (Kamini et al.,——-; Thanikaivelan et al., 2004). Kerugiannya adalah ongkos atau biaya produksi meningkat cukup berarti.

Setelah selesai proses perendaman, kulit dibersihkan secara mekanis dari sisa daging dan lemak. Untuk memudahkan pencabutan rambut kulit direndam dalam larutan kapur dan sedikit natrium sulfida selama satu sampai 9 hari. Air yang dipakai sebaiknya juga harus air dingin, dan rendaman kulit disimpan pada suhu rendah (10C). Larutan perendaman diaduk secara periodik agar kapur dan natrium sulfida masuk ke dalam kulit secara merata. Proses liming konvensional menggunakan bahan kimia kapur dan Na2S. Kedua
bahan kima ini merupakan sumber cemaran utama pada air buangan proses pengapuran. Keuntungan penggunaan kapur adalah rendahnya kelarutan sehingga kandungan padatan terlarut pada limbah cair rendah, tetapi ada kekurangannya yaitu dihasilkan limbah padat yang cukup besar. Setelah proses ini selesai rambut dapat dihilangkan secara mudah dengan mesin penghilang rambut atau dikerok dengan pisau buang rambut (Sharpouse, 1983; Sarkar, 1995; Ockerman dan Hansen, 2000). Meskipun beracun, Na2S merupakan bahan utama penghancur epidermis dan rambut pada proses unhairing. Namun sekarang sudah berkembang beberapa metoda unhairing yang bertujuan untuk menyelamatkan wool atau rambut dan mengurangi jumlah pemakaian Na2S, metode ini disebut Hair-save unhairing. Metode hair-save unhairing biasanya menggunakan Na2S kurang dari 1,5% tergantung pada dosis kapur, lamanya proses, ketebalan dan panjang rambut, ketebalan kulit, pH, suhu, dan intensitas gerakan mekanis yang digunakan. Pemakaian Na2S lebih dari 1,5% sudah menyebabkan hancurnya wool atau rambut (Frendrup, 2000).

Di Industri besar hair-desolving menggunakan natrium sulfida sebanyak 2%, sedangkan hair-saving menggunakan natrium sulfida sebesar 1,3%, diikuti dengan enzymatic nhairing agar kulit yang dihasilkan grainnya lebih baik. Teknik hair saving dapat menurunkan chemical oxygen demand (COD) sebesar 15-20% dan total N antara 25-30% (IULCTS, 2000). Hasil yang lebih baik diperoleh bila rambut yang lepas segera disaring, sehingga diperoleh penurunan COD dan N yang lebih tinggi. Dengan adanya peraturan yang lebih ketat terhadap limbah yang dihasilkan, metode unhairing secara enzimatis lebih dapat diterima oleh industri kulit daripada metode-metode yang lain. Namun hal ini bukan berarti bahwa metode unhairing lainnya sudah tidak dilakukan lagi oleh pabrik penyamak.

Enzim yang digunakan sebagai agensia unhairing biasanya adalah enzim protease. Enzim
proteolitik ini dapat berasal dari hewan, tanaman, bakteri maupun fungi (Thanikaivelan et al., 2004). Enzim keratinase asal Bacillus subtillis S14 (Macedo et al.,l (2005) ) telah digunakan untuk dehairing kulit sapi. Enzim ini aktif pada pH 8-9 sehingga tidak membahayakan pekerja, sedangkan unhairing secara kimia pHnya sekitar 12,5. Waktu dehairing dengan enzim ini sama seperti dehairing secara kimia. Penggunaan enzim biasanya dicampur dengan kapur atau kaolin dan Na2S dalam jumlah yang relatif kecil

(<1%), disikatkan pada bagian daging untuk beberapa lama sampai rambut mudah dicabut atau dilarutkan dalam air kapur, kulit direndam atau diputar di dalam drum dengan putaran rendah. Dehairing secara enzimatis menghasilkan bulu yang relatif utuh, sehingga kandungan padatan tersuspensi nya rendah. Enzim protease Aspergillus sp dan A. Oryzae juga telah digunakan untuk unhairing kulit kambing (Triatmojo et al., 2004), dengan hasil kulit samak dengan kekuatan fisik sama seperti yang diperlakukan secara kimia. Enzim alkalin protease mampu mencerna soft keratine pada sel-sel lapisan malpigi dan akar rambut, sehingga rambut dapat dicabut sampai ke akar-akarnya, sedangkan basa dan sulfida menyerang epidermis dan rambut (hard keratine), sehingga rambut terpotong-potong bahkan dapat hancur bila pemakaian sulfida terlalu banyak.

Keuntungan pemakaian enzim untuk unhairing adalah rambut yang dihasilkan relatif utuh, pH larutan lebih rendah (sekitar 10), mengurangi penggunaan sulfida sekitar 60%, serta menurunkan biological oxygen demand (BOD) dan COD dalam limbah cair sekitar 40-50% lebih rendah daripada unhairing secara kimia (Triatmojo et al., 2004). Keuntungan lainya adalah diperoleh kulit dengan area yang lebih luas, grain lebih bersih, lingkungan lebih baik, dan efisiensi penanganan limbah lebih tinggi (Kamini et al., ——; Thanikaivelan et al., 2004). Kekurangan enzimatik unhairing adalah adanya kecenderungan kerusakan kolagen, serat kurang terbuka, kulit tipis, dan biaya untuk bahan kimia lebih tinggi (Thanikaivelan et al., 2004). Secara umum metode unhairing secara enzimatis lebih ramah lingkungan dibanding dengan metode konvensional. Untuk menghemat pemakaian bahan kimia dan air dapat dilakukan daur ulang secara langsung cairan pengapuran, teknologi ini menghemat pemakaian natrium sulfida sebesar 40% dan kapur sebesar 50% (IULTCS, 2000). Teknologi ini dapat menurunkan COD 30-40% dan
N sebesar 35% pada efluen campurannya. Pembelahan kulit setelah dikapur juga dapat dipandang sebagai teknologi bersih karena akan menghemat pemakaian bahan kimia dan bahan penyamak serta menghasilkan kulit belahan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi gelatin (IULTCS, 2000).

Buang kapur (deliming)
Kapur yang tertinggal pada kulit yang telah dibuang rambutnya biasanya dibuang dengan cara dicuci dengan air selama 20-30 menit, dan yang terikat secara kimia dihilangkan dengan asam dan garam amonium (Sarkar, 1995), kadang-kadang juga ditambahkan sedikit wetting agent dan surfaktan untuk mempercepat proses buang kapur. Buang kapur secara konvensional dengan garam amonium dihasilkan N-NH3 sebesar 40%, ini sangat mencemari lingkungan karena bau dan sifat racun dari amonia. Upaya untuk mengurangi pencemaran terus dilakukan salah satunya adalah penggunaan CO2 untuk buang kapur. Buang kapur dengan CO2 bertujuan untuk mengurangi (bukan untuk
menggantikan) jumlah garam amonium yang digunakan untuk buang kapur. Deliming dengan CO2 saja berjalan sangat lambat sehingga masih memerlukan penambahan garam amonium untuk mempercepat proses (White et al. ——). Deliming dengan CO2 sangat cocok untuk kulit tipis, CO2 (1-1,5% berat kulit) diinjeksikan langsung ke dalam drum.

Penggunaan CO2 untuk deliming kulit tipis dapat dianggap sebagai teknologi bersih karena menghasilkan kulit samak dengan kualitas yang bagus (Aloy, 1993). Pada kulit tebal diperlukan peningkatan suhu cairan sampai 35oC atau memperpanjang waktu deliming (IULTCS, 2004). Menurut White et al.,( ——-) deliming dengan CO2 pada kulit sapi utuh yang dikapur dengan metode Sirolime dan disamak dengan krom daur ulang menghasilkan kulit wet-blue yang lebih bersih dan lebih baik mutunya daripada buang kapur secara konvensional.

Posted in Artikel Peternakan, Teknologi peternakan | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Layanan Aqiqah “Cipta Persada Aqiqah”

Posted in Artikel Peternakan | Tagged , , , | Leave a comment

Paket Qurban Hemat Idhul Adha 1433 H

Assalammu’alaikum.wr. wb.

Alhamdulillah, tahun ini CMP-Agrofarm kembali menawarkan Paket Qurban Idul Adha 1433 H. Dengan konsep semakin awal pemesanan maka harga qurban akan semakin murah. Berikut daftar harga domba qurban Idul Adha 1432 H:

PAKET A.

Tipe

* Berat

*September 2012

Oktober 2012

Ekonomis

20 – 23 kg

Rp    950.000

Rp   1.050.000

Standar

24 – 29 kg

Rp 1.200.000

 Rp  1.300.000
Super

30 – 33 kg

Rp 1.400.000

Rp  1.700.000

*Berat merupakan berat saat Idul Adha & Gratis biaya pemeliharaan sampai Idul Adha

PAKET B

Pembelian di Bulan

Berat

Harga perkg

Berat Idul Adha

Feb – Agustus 2011

20 – 24 kg

Rp   38.000

25 – 27 kg

25 – 27 kg

Rp. 40.000    30 – 33 kg
Oktober 2012

20 – 24 kg

Rp   40.000

25 – 27 kg

25 – 27 kg

 Rp. 42.000  30 – 33 kg

*Biaya pemeliharan dan pakan Rp 3.500/ekor perhari

Kelebihan yang kami berikan :

  1. Gratis ongkos kirim* (syarat & ketentuan berlaku)
  2. Pengiriman mulai dari H-5 sesuai deengan wilayah
  3. Pemesanan lewat online, telepon atau pilih langsung ke peternakan kami
  4. Pembayaran bisa via Transfer Bank
  5. Siap menyalurkan hewan kurban Anda (disertai bukti dokumentasi)

Kontak :

Priyo Arif Mustakim

Telp. 0274 – 6923095, 0815 805 0904

Email : agrosukses@yahoo.co.id

Posted in Artikel Peternakan | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Kulit Domba dan Kambing Masih Jadi Primadona di Luar Negeri

Meski banyak alternatif kulit binatang dipasaran untuk dijadikan bahan baku produk, kulit kambing dan domba masih menduduki peringkat permintaan tertinggi. Kualitas prima menjadi alasan utama kulit itu diminati. Tak hanya pasar dalam negeri, permintaan dari luar negeri terus berdatangan. Bahkan, dari negara-negara di Eropa dan Amerika.

POTENSI bisnis kulit kambing dan domba temyata masih sangat besar. Buktinya, permintaan yang datang tak hanya dari pasar dalam negeri. Permintaan pasokan kulit dua hewan ini dari luar negeri pun tak pernah sepi.
Maklum, kulit kambing dan sapi bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari busana hingga kerajinan tangan. Di dalam negeri, permintaan kulit-kulit ini lebih banyak untuk bahan baku kerajinan tangan dan perabotan. Sementara, pasar luar negeri lebih sering menggunakan kulit hewan ternak ini untuk berbagaiproduk garmen mewah. Misalnya jaket, sarung tangan, hingga tas golf eksklusif.

Kulit domba dan kambing memang terkenal akan kualitasnya yang prima jika digunakan sebagai bahan baku produk. Selain itu, kulit domba dan kambing memiliki tingkat kelembutan yang tinggi. Sehingga, kulit ini menjadi pilihan bahan baku produk yang paling digemari para konsumen.

Tengok saja salah satu produsen penyamakan kulit, FT Trio Putera Utama, yang beroperasi di Cileungsi, Bogor. Perusahaan ini fokus menggunakan kulit domba dan kambing sebagai bahan baku pembuatan produk kulitnya Tiap bulan, Trio mampu memproduksi sekitar satu juta square feel kulit samakan. Sebagai gambaran, 1 square feet setara 30 centimeter persegi (cm2).

Harganya beragam, tergantung kualitas dan ketebalan kulit. Harga kulit dari bahan baku kulit domba biasanya lebih mahal dari kulit kambing. “Rata-rata harga kulitnya sekitar US$ 1,5 sampai US$ 3 per square feet,” kata Aditya Ridwan, Head of Plan Service FT Trio Putera Utama.

Seluruh produksi kulit Trio Putera untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negeri. Beberapa negara tujuan ekspornya adalah Amerika Serikat (AS), Eropa, China, dan Korea Selatan. Setiapbulan, perusahaan ini bisa menjual sekitar 200.000hingga 300.000 square feet kulit. Omzetnya rata-rata mencapai USS 300.000 saban bulan.

Pemain usaha kerajinan kulit lainnya adalah Fredi. Pemilik usaha Karya Kulit di Yogyakarta ini mengolah kulit sapi dan kulit kambing mentah menjadi kulit yang siap. Bahan ini bisa digunakan sebagai bahan kerajinan seperti sepatu, tas, dan dompet. “Tapi, kebanyakan kulit produksi kami diguna- kan sebagai bahan pembuatan furnitur,” imbuhnya

Fredi mengolah kulit dalam berbagai penyamakan, seperti kulit bulu (cowhide), kulit lunak (soft leather),dan kulit keras (hard leather). Pesanan paling banyak biasanya berupa kulit lunak yang digunakan sebagai bahan furnitur.

Khusus untuk kulit kambing, Fredi mematok hargajual kulit bulu sebesar Rp 180.000 per lembar. Sedangkan kulit keras dan lunak sekitar Rp 40.000-Rp 50.000 per lembar. Ia mengaku bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan dengan margin keuntungan 20%. Kulit samak yang diproduksi

Fredi sementara ini masih -didistribusikan di Jawa dan Sumatera Tapi, Fredi juga bekerja sama dengan rekannya yang memproduksi furnitur. Kulit pasokannya diolah menjadi produk jok berbahan kulit. Furnitur kulit tersebut sudah menembus pasar Amerika Serikat dan Belanda

Hanya, para pengusaha kulit ini masih terkendala pasokan bahan baku kulit. Terutama, ketika musim penghujan tiba Pasalnya, banyak kambing dan domba yang tidak terpelihara dengan baik sehingga kualitas kulitnya menurun.

Padahal, perusahaan yang berorientasi ekspor seperti, Trio Putera harus memenuhi standar kualitas luar negeri yang begitu ketat untuk ekspor.

Sementara, penjualan ekspor pun masih belum 100% pulih setelah terpukul krisis global yang melemahkan perekonomian dunia sejak akhir tahun 2008.

Aditya bilang, permintaan ekspor saat ini yang sebesar 200.000 hingga 300.000. square feet per bulan sejatinya anjlok 60% dibandingkan sebelum krisis global terjadi. “Tapi, sekarang tren ekspor sudah naik meski belum sebaik sebelum krisis,” ujarnya

Sekadar catatan, bila mampu mengoperasikan seluruh kapasitas produksi sebesar satu juta square feet per bulan, Trio Putera membutuhkan 50.000 ekor domba dan kambing.
Pasokan kulit bakalmembeludak jika musim Lebaran Haji tiba Pada momen itu, banyak kulit domba dan kambing yang dijual setelah dagingnya digunakan untuk kurban. Biasanya, sekitar bulan Mei-November permintaan kulit dari luar negeri yang datang ke Trio Putera lebih banyak untuk keperluan garmen. Untuk permintaan ini, kulit yang dibutuhkan cenderung lebih tebal dan kasar, seperti kulit kambing.

Sedangkan sekitar bulan Desember-April, permintaan kulit didominasi untuk keperluan pembuatan sarung tangan. “Kulit yang dibutuhkan lebih lembut dan tipis seperti kulit domba,” kata Aditya.

Proses pembuatan kulit dimulai dari pengumpulan kulit domba dan kambing dari berbagai peternakan di seluruh Jawa Setelah itu kulit disamak dan dilanjutkan dengan pewarnaan menggu-nakan pewarna khusus kulit.

Kemudian, mulailah tahap pengeringan serta penyelesaian akhir. Setelah itu, kulit siap dibuat menjadi produk jaket, tas golf, sarung tangan, sepatu, produk-produk lain.Menurut Fredi, prospek bisnis kulit masih cerah sejauh kulit masih banyak peminatnya, baik sebagai bahan industri furnitur maupun garmen, “Pasarnya akan terus terbuka dan berkembang,” ujarnya

Posted in Artikel Peternakan, Uncategorized | Tagged , , , , | 43 Comments

Potensi Domba yang belum tergarap

Potensi peternakan indonesia masih sangat terbuka lebar. Mengapa demikian??? kita telur masih impor, daging impor, sapinya juga impor, susu apalagi??? Dimana sih peranan sarjana-sarjana peternakan indonesia???Peluang usaha yang mempunyai potensi sangat luas adalah domba. Bangsa ini mempunya ternak domba yang berkualitas penghasil daging, susu, dan wool. Tp dua potensi  terakhir memang belum tergarap sama sekali, padahal negara-negara maju mengandalkan produksi woolnya sebagai produk utama dari ternak domba.

Dari sisi ekonomi, ternak domba sangatlah potensial dikembangkan walaupun memang masih kalah dengan ternak sapi. Tapi tidak menutup kemungkinan dalam rangka swasembada daging nasional produksi dan permintaan domba akan meningkat seiring dengan daya beli masyarakat. Selama ini ternak domba masih dipelihara sebagai sampingan bagi petani peternak, belum di pelihara secara intensif dan serius. Pada hal kalau ternak ini di kelola dengan serius, dipelihara dengan intensif kesejahteraan petani peternak juga akan meningkat.

Pasar terbesar dari ternak domba ini adalah saat Qurban datang, kalau kita melihat data statistik permintaan domba dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Akan tetapi tanpa di dukung dengan pola pembibitan yang simultan dan berkelanjutan. Entah sampai kapan hal ini akan terjadi??? akan kah kita juga akhirnya kita juga akan mengimpor domba dari luar negeri untuk memenuhi permintaan baik daomba hidu atau daging??? inilah pertanyaan yang harus segera kita jawab. Jangan sampai kasus sapi terjadi juga pada ternak domba.

#rifta#

Posted in Artikel Peternakan | Tagged , , , , , | Leave a comment

Mengapa harus Susu Kambing????

Tidak seperti susu sapi, susu kambing tidak mengandung aglutinin. Akibatnya globula lemak susu kambing tidak mengalami klusterisasi, sehingga lebih mudah dicerna. Susu kambing mengandung kadar laktosa yang sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi (4,1 vs 4,7 %). Kondisi ini sangat baik bagi orang yang mengalami lactose-intolerant.

Orang tua yang memiliki bayi yang alergi terhadap susu sapi dan susu formula, seringkali dianjurkan untuk menggunakan susu kambing sebagai salah satu alternatif. Secara teori, susu kambing lebih tidak menyebabkan alergi dan mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi perlu dicatat bahwa penggunaan susu kambing tidak diperuntukkan sebagai susu pengganti susu formula. Seperti halnya dengan susu sapi, pengantian dalam jangka panjang dapat menyebabkan anemia dan iritasi usus halus. Jika bayi kita yang usianya di bawah 1 tahun mengalami alergi terhadap susu formula yang bahan dasarnya susu sapi, dianjurkan untuk mencoba susu formula berbasis kedelai atau susu khusus untuk hypoallergenic

Diperkirakan bahwa kejadian alergi terhadap susu sapi pada bayi berkisar antara 3-7 %, akan tetapi jumlah kejadian yang sebenarnya masih belum diketahui. Fries mengatakan bahwa berbagai gejala khas gangguan gastrointestinal kemungkinan berhubungan dengan komponen antigenic makanan, toxin tertentu, faktor fisik makanan bayi, buruknya penyiapan serta kontaminasi bakteri.

Dewasa ini kejadian alergi terhadap susu sapi atau makanan yang berbahan dasar susu sapi makin menurun. Salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan antibiotik dalam pakan sapi yang sudah sangat berkurang dan bahkan di beberapa negara penggunaannya sudah dilarang. Peternakan sapi harus menerapkan ”Good Farming Practices” yang sudah terstandardisasi, sehingga susu yang dihasilkan lebih aman, sehat dan kandungan nutrisinya lebih baik.

Gejala alergi terhadap susu sapi pada bayi biasanya sudah mulai tampak sejak awal, bahkan pada beberapa kasus kejadian ini langsung tampak sejak bayi diberi susu formula asal sapi untuk pertama kalinya. Gejala yang tampak adalah ganggunan pencernaan seperti misalnya muntah, sembelit, feces yang sangat encer. Pada kasus tertentu terkadang tampak bayi kesulitan bernafas dan hidung berair. Susu kambing memiliki komposisi nutrisi yang khas sehingga pada beberapa kasus dapat digunakan sebagai susu pengganti susu sapi pada bayi bayi yang mengalamiHypo-Allergenic Infant Food terhadap susu sapi.

Dalam memahami mengapa susu kambing dapat digunakan sebagai susu pengganti berikut disampaikan berbagai perbandingan nilai nutrisi susu kambing dibandingkan dengan susu sapi. Disamping itu perbandingan ini dapat dibandingkan dengan nilai nutrisi Air Susu Ibu (ASI) sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunakan memberikan susu kambing pada bayi.

KANDUNGAN PROTEIN
Pada umumnya distribusi komponen protein susu kambing hampir sama dengan susu sapi, walaupun komposisi kaseinnya berbeda. Kasein yang dikandung susu sapi mengandung 55% alpha kasein, 30% beta kasein dan 15% kappa kasein, sedangkan susu kambing komposisinya adalah 19% alpha S-1 kasein, 21% alpha S-2 kasein dan 60% beta kasein. Kasein susu kambing memiliki kandungan glycine (terutama methionine), arginin serta sulphur nya lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi.

Perbandingan antara Komposisi Nutrisi Susu Kambing, Susu Sapi dan ASI (untuk setiap 100 ml)

Komponen ASI Sapi Kambing
Protein (g) 1.2 3.3 3.3
kasein (g) 0.4 2.8 2.5
Laktalbumin (g) 0.3 0.4 0.4
Lemak (g) 3.8 3.7 4.1
Laktosa (g) 7.0 4.8 4.7
Nilai-Kalori (Kcal) 71 69 76
Mineral (g) 0.21 0.72 0.77
Kalsium (mg) 33 125 130
Fosfor (mg) 43 103 159
Mg (mg) 4 12 16
K (mg) 55 138 181
Na (mg) 15 58 41
Fe (mg) 0.15 0.10 0.05
Cu (mg) 0.04 0.03 0.04
I (mg) 0.007 0.021
Mn (mg) 0.07 2 8
Zn (mg) 0.53 0.38
VITAMIN:
Vitamin A (I.U.) 160 158 120
Vitamin D (I.U.) 1.4 2.0 2.3
Thiamine (mg) 0.017 0.04 0.05
Riboflavin (mg) 0.04 0.18 0.12
Nicotinic Acid (mg) 0.17 0.08 0.20
Pantothenic Acid (mg) 0.20 0.35
Vitamin B6 (mg) 0.001 0.035
Folic Acid (mcg) 0.2 2.0 0.2
Biotin (mcg) 0.4 2.0 1.5
Vitamin B12 (mcg) 0.03 0.50 0.02
Vitamin C (mg) 4.0 2.0 2.0

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ribadeau Dumas et al. disimpulkan bahwa struktur molekuler susu kambing berbeda dengan susu sapi, demikian juga dengan kasein susunya. Dinyatakan bahwa selain laktalbumin, berbagai fraksi protein susu kambing berbeda dengan susu sapi. Hal ini kemungkinan besar merupakan penjelasan yang dapat digunakan untuk menjawab mengapa bayi yang tidak toleran terhadap susu sapi masih toleran dengan susu kambing.

Susu kambing juga memiliki ”curd tension” yang lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi perah FH dan Jersey (36, 52 dan 78). Hal ini diduga sebagai penyebab mengapa daya cerna susu kambing lebih baik jika dibandingkan dengan susu sapi.

KANDUNGAN LEMAK

Krim susu kambing lebih lambat mengendap jika dibandingkan dengan susu sapi. Hal ini disebabkan ukuran globula lemaknya lebih kecil. Disamping itu susu kambing memiliki ”globule clustering agent” yang lebih sedikit. Susu kambing memiliki asam lemak linoleic dan arachidonic yang lebih tinggi dan juga memiliki persentase asam lemak jenuh rantai pendek yang lebih tinggi. Perbedaan ini diduga berhubungan dengan lebih mudah dicernanya susu kambing dibandingkan dengan susu sapi.

Perbandingan Komposisi Asam Lemak ASI, Susu Sapi dan Susu Kambing

Asam Lemak ASI Sapi Kambing
ASAM LEMAK JENUH
Butyric Acid 0.4 3.1 2.6
Caproic Acid 0.1 1.0 2.3
Caprylic Acid 0.3 1.2 22.7.7
Capric Acid 0.3 1.2
Lauric Acid 5.8 2.2 4.5
Myristic Acid 8.6 10.5 11.1
Palmitic Acid 22.6 26.3 28.9
Stearic Acid 7.7 13.2 7.8
Arachidonic Acid 1.0 1.2 0.4
ASAM LEMAK TIDAK JENUH
Oleic Acid 36.4 32.3 27.0
Linoleic Acid 8.3 1.6 2.6
Linolenic Acid 0.4
C22-20 Acids 4.2 1.0 0.4
Arachidonic Acid 0.8 1.0 1.5

Susu kambing memiliki kandungan asam caproic, caprylic, capric dan lauric yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi. Kandungan asam palmitic dan stearic nya lebih rendah.

KANDUNGAN MINERAL
Kandungan abu susu kambing berkisar antara 0,7-0,85 %. Susu kambing memiliki kandungan sodium (Na)yang lebih rendah, akan tetapi kandungan potassium (K) dan chlorine (Cl)nya lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Kandungan zat besi (Fe)susu kambing bervariasi bergantung pada cara pemeliharaan dan pakan kambing. Konsentrasi “trace elemen” susu kambing pada umumnya hampir sama dengan susu sapi kecuali kandungan cobalt(Co)nya

KANDUNGAN VITAMIN
Kandungan vitamin susu kambing hampir sama dengan susu sapi, kecuali untuk vitamin B6, asam folat dan vitamin B12 yang lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi.

SUMBER: http://lppm.rumahkucing.com/index.php?option=com_content&view=article&id=208:perbandingan-kandungan-nutrisi-asi-susu-sapi-dan-susu-kambing-&catid=38:warta-iptek&Itemid=50

PENULIS :
*) Rarah Ratih Adjie Maheswari, Bagian Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB
*) Ronny Rachman Noor, Bagian Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB.

Posted in Artikel Peternakan | Tagged , , | Leave a comment