Kulit

KOMPENEN PENGAWETAN KULIT

A. MACAM DAN JENIS KULIT

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Asal Hewan
    1. Hewan ternak : sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi.
    2. Hewan melata : buaya, biawak, komodo, ular, kodok
    3. Hewan air: ikan pari, ikan kakap, ikan tuna
    4. Hewan liar: gajah, harimau
    5. Burung : burung unta, ayam

  1. Pembagian Kelompok Kulit
    1. Kulit besar (sapi,kerbau, kuda, gajah)
    2. Kulit kecil (kambing, domba, kijang, kelinci)
    3. Kulit reptil (ular, buaya, biawak, kadal, kodok)
    4. Kulit ikan (pari, hiu, tuna).

Kualitas kulit dari hewan yang dagingnya di konsumsi :

1. Kulit Sapi

Sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan, ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi cukup kuat.

2. Kulit Kerbau

Kulit kerbau tidak jauh beda dengan kulit sapi, baik dari ukuran, kekuatan, dan keuletannya. Hanya saja kulit kerbau lebih tebal sedikit dibanding kulit sapi.

3. Kulit Kambing

Kulit kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya.

4. Kulit Domba

Selain ukurannya yang agak kecil dan bentuknya memanjang, kulit domba tidak banyak berbeda dengan kulit kambing.

  1. Jenis Kulit dalam Industri Perkulitan

Beberapa jenis kulit yang dihasilkan dari proses pengolahan kulit adalah :

1. Kulit Full Grain

Kulit yang disamak dengan zat penyamak full krom dengan nerf atau rajah yang masih asli, tidak dibelah atau digosok. Jenis kulit seperti ini mempunyai kualitas tinggi sehingga dapat menaikkan harga kulit.

2. Kulit Corrected Grain

Kulit yang disamak dengan zat penyamak krom, minyak, dan sebagainya karena kualitas kulit tidak baik yang disebabkan oleh cacat alami seperti dicambuk, penyakit cacar, ditusuk, dan sebagainya sehingga menimbulkan cacat pada permukaannya. Untuk mengantisipasi cacat yang ada pada permukaan kulit, maka kulit dihaluskan dengan mesin amplas sampai halus, kemudian dicat dengan menggunakan cat sintetis. Kualitas kulit ini kurang baik dan agak kaku.

3. Kulit Light Buffing

Kulit ini proses pengerjaannya hampir sama dengan kulit corrected hanya bedanya kulit “light buffing” di amplas ringan pada permukaannya, jadi kulit ini kualitasnya lebih baik.

4. Kulit Artificial

Kulit ini keindahannya terletak pada proses penyelesaian akhir, yaitu dengan cara memberi motif tertentu, misal buaya, biawak, ular, motif kulit jeruk dan sebagainya. Tujuan pemberian motif adalah untuk menutupi cacat yang diakibatkan oleh cacat alami atau mekanis. Kulit artificial sering menyerupai aslinya atau disebut kulit buatan.

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Istilahnya

1. Kulit Batik

Kulit jadi dibuat dari domba/kambing

2. Kulit Beledu

Kulit jadi dari kerbau, sapi, kuda, domba, kambing, dsb. yang disamak krom yang bagian nerf (permukaannya) diamplas halus; biasanya digunakan untuk sepatu, jaket, dan lain-lain.

3. Kulit Boks (Full grain, corrected grain).

Kulit jadi yang umumnya dibuat dari kulit sapi dan lazim digunakan untuk kulit sepatu bagian atas (upperleather).

4. Kulit Split

Kulit jadi dari sapi, kuda, kerbau, yang dibelah dengan mesin belah yang menghasilkan 2 bagian atau lebih, yaitu bagian nerf (grain split) dan daging (flesh split) yang digunakan untuk sepatu, sandal, ikat pinggang, dan sebagainya.

5. Kulit Glace

Kulit matang dari kulit sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang disamak krom yang biasa digunakan untuk pembuatan sepatu wanita.

6. Kulit Jaket

Kulit jadi/matang yang umumnya dibuat dari kulit domba, kambing yang lazim disamak krom dan umumnya digunakan untuk jaket.

7. Kulit Kering

Kulit segar yang telah dikeringkan, biasanya dengan cara dijemur pada sinar matahari.

8. Kulit Lapis (Lining)

Kulit jadi/matang dari kulit domba, kambing, sapi, kerbau yang lazim disamak nabati, diwarna atau tidak diwarna yang digunakan untuk pelapisan.

9. Kulit Lap

Kulit jadi dari kulit domba, kambing yang disamak minyak dan diamplas pada bagian nerf hingga menghasilkan kulit lunak, rata dan lemas; biasanya digunakan untuk lap kaca, optik, dan lain-lainnya.

10. Kulit Perkamen

Kulit mentah yang sudah dalam keadaan kering dan digunakan untuk pembuatan wayang, kap lampu, penyekat, kipas, bedug, dan sebagainya.

11. Kulit Print

Kulit yang dicetak sesuai dengan gambar yang dikehendaki, misal motif kulit jeruk, buaya, biawak, dan sebabainya.

12. Kulit Samak Bulu

Kulit dari sapi, kerbau, kuda, kambing, dan sebagainya. yang disamak krom atau kombinasi dengan tidak dilepas bulunya dan digunakan untuk jokmobil, jaket, mebel, dan lain-lain.

13. Kulit Sarung Tangan

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, domba, kambing yang disamak krom dan hanya digunakan untuk sarung tangan.

14. Kulit Sol

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, kerbau yang disamak dengan bahan nabati, biasanya digunakan untuk sepatu bagian bawah, pelana kuda, tempat kamera dan lain-lain.

15. Kulit Tas atau Koper.

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, kuda, kerbau yang disamak nabati dan digunakan untuk pakaian kuda, tas, koper, ikat pinggang.

16. Kulit untuk alat olah raga.

Kulit jadi/matang dari kulit sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang digunakan untuk alat olah raga, misal kulit untuk bola, sepatu bola, shuttle cock, sarung tinju, dan lain-lain.

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Kualitasnya

1. Bagian punggung

Bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling kompak; luasnya 40 % dari seluruh luas kulit

2. Bagian leher

Kulitnya agak tebal, sangat kompak tetapi ada beberapa kerutan

3. Bagian bahu

Kulitnya lebih tipis, kualitasnya bagus, hanya terkadang ada kerutan yang dapat mengurangi kualitas

4. Bagian perut dan paha

Struktur jaringan kurang kompak, kulit tipis dan mulur. Walaupun proses pengolahan atau pengawetan kulit telah dilakukan dengan hati-hati dan menurut ketentuan yang benar, namun ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kemungkinan setelah kering, kulit menjadi tidak sama kualitasnya.

Pembagian Kelas Kulit Berdasarkan Berat

Perbedaan kelas kulit mentah baik kulit sapi ataupun kerbau dapat diketahui melalui berat tiap-tiap lembar kulit. Untuk menentukan tingkatan berat ini digunakan tanda abjad (alfabet). Adapun penggolongan kulit berdasarkan beratnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Kelas A                   : kulit yang beratnya 0 kg – 3 kg/lembar.

2. Kelas B                   : kulit yang beratnya 3 kg – 5 kg/lembar.

3. Kelas C                   : kulit yang beratnya 5 kg – 7 kg/lembar.

4. Kelas D                  : kulit yang beratnya 7 kg – 9 kg/lembar.

5. Kelas E                   : kulit yang beratnya 9 kg/lembar atau lebih,

sedangkan untuk menunjukkan kulit sapi diberi tanda Z.

Pembagian kelas kulit mentah sapi dan kerbau berdasar beratnya, juga dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Kelas ringan         : kulit yang beratnya 1 kg – 6 kg/lembar.

2. Kelas sedang I      : kulit yang beratnya 6 kg – 8 kg/lembar.

3. Kelas sedang II    : kulit yang beratnya 8 kg -10 kg/lembar.

4. Kelas berat I         : kulit yang beratnya 10 kg -15 kg/lembar.

5. Kelas berat II        : kulit yang beratnya lebih dari 15 kg/lembar.

Kualitas Kulit Kambing/Domba

Persyaratan penentuan kelas kur kambing/domba, secara garis besar tidak jauh berbeda dengan penentuan kelas pada kulit sapi dan kerbau. Namun kulit kambing tidak ditentukan berdasarkan beratnya, melainkan berdasarkan panjang tengah-tengah dari ekor hingga leher, dan lebarnya kulit. Oleh karena itu pembagian kelas kambing/domba dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Kelas I                    : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 70 cm.

2. Kelas II                 : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 60 cm

3. Kelas III                 : kulit yang panjangnya 90 cm, lebar 55 cm.

4. Kelas IV                 : kulit yang panjangnya 80 cm, lebar 50.

5. Kelas V                   : kulit yang panjangnya 70 cm, lebar 45 cm.

6. Kelas afkir            : kulit yang panjangnya kurang dari 70 cm.

7. Jenis-Jenis Kulit Jadi

Berbagai macam kulit hewan baik sapi, kerbau, kambing dan domba pada dasarnya dapat dibuat menjadi kulit-kulit di bawah ini.

1. Full Grain/Full Top Grain Leather

Dikatakan demikian bila tidak diratakan atau tidak dihaluskan pada bagian atasnya. Jadi ketika bagian luar kulit secara utuh masih alami dipertahankan selama proses penyamakan dinamakan Full Grain Leather.

2. Corrected Grain Leather

Kulit yang memiliki permukaan tambahan/buatan yang diemboss ke dalamnya setelah dihaluskan lebih bagian luar kulit yang kurang bagus.

3. Nappa Leather

Mulanya hanya kulit domba yang dinamakan Nappa. Tetapi belakangan ini kata ‘Nappa’ menjadi istilah kulit lain yang berarti ‘lembut’ seperti kulit sapi Nappa.

4. Patched Leather

Setelah kulit disamak, dicelup dan melalui proses akhir (finishing) sesuai keinginan, pengrajin yang terlatih kemudian memilih kulit yang cocok dalam warna dan teksturnya. Masing-masing lembaran kulit kemudian dipotong dengan tangan ke dalam ukuran yang berbeda-beda, lalu dijahit ke dalam corak-corak berbentuk mosaik menjadi produk akhir yang berbeda dari lainnya.

5. Patent Leather

Ketika kulit sapi dikerjakan dengan bahan akhir yang protektif seperti cat acrylic atau bahan tahan air untuk memproduksi hasil akhir yang sangat mengkilap.

6. Nubuck Leather

Kulit aniline penuh yang telah dihaluskan/diratakan untuk menciptakan bintik (naps). Nubuck termasuk Top Grain Leather sehingga tak bisa dikategorikan sebagai Split atau Suede. Permukaan kulit aniline Nubuck disikat untuk menciptakan tekstur seperti beludru, sehingga seringkali dikira suede. Suede adalah bagian dalam dari potongan kulit, sedangkan Nubuck adalah efek yang timbul dari pengerjaan di bagian luar kulit.

7. Suede Leather

Ketika kulit di-finish melalui penghalusan dengan roda emory untuk menciptakan suatu permukaan yang berbintik (naps). Suede terbuat dari lapisan yang dipisahkan dari bagian top grain suatu kulit.

8. Pull-up Leather

Kulit yang memperlihatkan efek warna meretak bila kulit ditarik ketat. Kulit ini menggunakan bahan celup full aniline, dan sebagai tambahan memiliki sejenis minyak dan/atau wax aplikasi, yang menyebabkan warna menjadi terlihat lebih muda ketika kulit ditarik.

B. STRUKTUR KULIT

Struktur kulit ialah kondisi susunan serat kulit yang kosong atau padat, dan bukan mengenai tebal atau tipisnya lembaran kulit. Dengan kata lain, menilai kepadatan jaringan kulit menurut kondisi asal (belum tersentuh pengolahan). Struktur kulit dapat dibedakan menjadi lima kelompok berikut :

1. Kulit berstruktur baik

Kulit yang berstruktur baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Perbandingan antara berat, tebal, dan luasnya seimbang. Perbedaan tebal antara bagian croupon, leher, dan perut hanya sedikit, dan bagian-bagian tersebut permukaannya rata.

b. Kulit terasa padat (berisi)

2. Kulit berstruktur buntal (Gedrongen)

Kulit yang berstruktur buntal memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Kulit tampak tebal, bila dilihat dari perbandingan antara berat dengan luas permukaan kulitnya.

b. Perbedaan antara croupun, leher, dan perut hanya sedikit.

3. Kulit berstruktur cukup baik.

Kulit yang berstruktur cukup baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Kulit tidak begitu tebal, bila dilihat dari perbandingan antara berat dengan luas permukaan kulit.

b. Kulit berisi dan tebalnya merata

4. Kulit berstruktur kurang baik

Kulit yang berstruktur kurang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Bagian croupun dan perut agak tipis, sedangkan bagian leher cukup tebal.

b. Peralihan dari bagian kulit yang tebal ke bagian kulit yang tipis tampak begitu menyolok.

c. Luas bagian perut agak berlebihan, sehingga bagian croupun luasnya berkurang.

5. Kulit berstruktur buruk

Kulit yang berstruktur buruk memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Bagian croupon tampak tipis dan kulit tidak berisi, sedangkan kulit bagian perut dan leher agak tebal.

b. Pada umumnya berasal dari kulit binatang yang berusia tua, luas croupon agak berkurang dan bagian perut lebar.

C. KERUSAKAN KULIT DAN KUALITAS KULIT

Kerusakan akan sangat berpengaruh pada kualitas atau mutu kulit yang dihasilkan. Ada kerusakan yang mengakibatkan cacat-cacat kulit sehingga menurunkan mutunya, tetapi ada pula kerusakan yang hanya menurunkan mutunya saja.

a. Busuk (rusak) yang terjadi pada kulit mentah, akan semakin parah pada saat proses perendaman dilakukan. Bila pengolahan dilanjutkan, maka akan dihasilkan kulit yang berkualitas rendah (jelek).

b. Irisan-irisan dalam yang terjadi pada saat pengulitan, akan menimbul-kan luka yang berbekas (tidak bisa hilang) dan membuat kulit mudah robek. Kulit yang demikian dikelompokkan dalam kulit berkualitas rendah.

c. Cacat yang disebabkan oleh penyakit kulit, akan menyebabkan timbulnya benjolan keras atau lekukan-lekukan pada permukaan kulit yang sulit dihilangkan. Bila dilakukan pewarnaan, warna tidak akan dapat merata, dan cat pada bagian kulit yang cacat tersebut mudah pecah dan terkelupas. Kulit dengan cacat seperti ini sangat terbatas pemanfaatannya.

d. Flek darah adalah cacat yang disebabkan oleh pukulan, cambukan, atau sebab mekanis lain, yang mengenai tubuh binatang pada masa hidupnya. Cacat flek darah ini dapat terjadi pula pada kulit yang berasal dari binatang yang mati sebelum dipotong. Kulit yang demikian, bila digunakan sebagai kulit perkamen, tidak akan banyak berpengaruh karena kekuatan kulit masih sama, hanya dengan warna yang kuning menarik. Namun, bila kulit tersebut disamak, akan menjadi leather (kulit-jadi) yang tidak rata, karena permukaan kulit yang tidak cacat akan berwarna mengkilap, tetapi bagian kulit yang cacat, akan buram.

Kerusakan kulit mentah pada dasamya dibedakan menjadi dua macam, yaitu: kerusakan ante-mortem dan post-mortem

a. Kerusakan ante-Mortem

Kerusakan ante-mortem adalah kerusakan kulit mentah yang terjadi pada saat hewan (binatang) masih hidup. Kerusakan kulit dapat disebabkan oleh beberapa macam, antara lain sebagai berikut :

i. Parasit

Jenis sumber kerusakan ini misalnya: saroptik, demodex atau demodecosis, caplak, dan kutu. Beberapa jenis parasit ini mengakibatkan rusaknya rajah pada kulit yang ditandai dengan adanya lubang-lubang kecil, tidak ratanya permukaan kulit atau adanya lekukan-lekukan kecil.

ii. Penyakit

Banyak faktor yang menyebabkan binatang menjadi sakit, misalnya akibat kurang baik dalam pemeliharaan. Bila penyakit tidak segera diobati, akan berpengaruh terhadap kualitas kulitnya, yang kadang sulit diperbaiki. Penyakit demam yang berkepanjangan, misalnya sampar lembu dan trypono-somiosis akan menyebabkan struktur jaringan kulit menjadi lunak. Lalat hypoderma bowis, menyebabkan kulit berlubang-lubang keril yang tersebar di seluruh bagian luar kulit. Kemudian, kerusakan yang disebabkan oleh kutu busuk, ditandai dengan adanya benjolan-benjolan kecil yang keras pada bagian bulu. Bila kulit mengalami kerusakan baik struktur maupun permukaannya, akan menyebabkan kualitas kulit menjadi rendah. Di samping penyakit hewan seperti tersebut di atas, terdapat pula bermacam bakteri, virus, jamur (fungi) yang membuat kerusakan-kerusakan lokal yang sangat sulit untuk diperbaiki. Kerusakan yang diakibatkan oleh bakteri adalah kulit menjadi busuk, dan kerusakan ini terjadi pada kulit sebelum diawetkan. Ada pula penyakit musiman yang dapat membuat kerusakan besar pada kulit.

iii. Umur tua

Binatang yang berumur tua, memiliki kulit yang berkualitas rendah. Pada kulit binatang yang telah mati sebelum dipotong, akan terdapat pembekuan-pembekuan darah yang tidak mungkin dihilangkan.

iv. Sebab mekanis

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan terhadap binatang, yang dapat menurunkan kualitas kulitnya. Cap bakar yang dipakai dalam identifikasi atau pengobatan, akan mengakibatkan rusaknya kulit yang tidak mungkin untuk diperbaiki. Cap bakar, menyebabkan Corium menjadi keras atau kaku dan tidak akan hilang. Goresan-goresan duri, kawat berduri, tanduk, berbagai tekanan, sabetan cemeti (cambuk), alat-alat pengendali, dan lain sebagainya, juga dapat menyebabkan kerusakan kulit. Kerusakan kulit mekanis ini sering dijumpai pada binatang piaraan yang digunakan dalam kepentingan pertanian atau industri. Namun, kerusakan mekanis ini tidak separah kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit. Di samping itu, pukulan-pukulan yang dilakukan terhadap binatang sebelum dipotong, dapat menyebabkan memar pada kulit, sehingga darah akan menggumpal. Karena penggumpalan darah itu, pembuluh darah akan mengalami kerusakan, sehingga kulit menjadi berwarna merah kehitam-hitaman. Bila hal ini terjadi, maka akan memudahkan pembusukan pada saat proses pengeringan.

b. Kerusakan post-Mortem

Kerusakan post-mortem adalah kerusakan kulit yang terjadi pada saat pengolahan kulit seperti :

i. Proses Pengulitan

Pengulitan merupakan proses pemisahan kulit dari tubuh binatang dengan cara pemotongan serabut kulit lunak. Oleh karena itu, dalam pengulitan ini dibutuhkan keahlian khusus. Pada kegiatan ini, kerusakan kulit dapat terjadi karena kesalahan dalam penggunaan peralatan, misalnya pisau. Hal ini dapat disebabkan karena kurang ahlinya orang yang menggunakan peralatan pada proses pengulitan ini. Pemotongan dan pengulitan harus dilakukan pada tempat yang memenuhi persyaratan, jangan sampai dilakukan di lantai yang kasar, yang dapat mengakibatkan kerusakan rajah kulit akibat pergesekan. Kebersihan binatang sebelum dipotong juga perlu diperhatikan, karena merupakan salah satu faktor penentu mutu kulit yang dihasilkan. Bila pelaksanaan pengulitan ini tidak sesuai dengan aturan, akan berakibat bentuk kulit tidak baik dan tidak normal. Dalam pengulitan ini, pembersihan kulit dari sisa-sisa daging yang melekat pada Corium harus dilakukan sebaik mungkin, karena sisa daging yang tertinggal dapat menjadi sumber tumbuhnya bakteri pembusuk kulit, yang dapat menyebabkan terjadinya pembusukan kulit.

ii. Proses Pengawetan

Kerusakan kulit dapat terjadi pula pada saat pengawetan. Misalnya, pengawetan dengan sinar matahari yang dilakukan di atas tanah akan menurunkan kualitas kulit, karena proses pengeringan tidak merata. Kulit bagian luar terlalu kering, sedangkan bagian tengah dan dalam masili basah, dengan demikian masih memungkinkan mikroorganisme pembusuk (flek busuk) yang disebut dengan sun-blister tetap hidup dan berkembang biak. Sebaliknya, kulit bagian luar yang terlalu kering akan membuat rajah menjadi pecah-pecah dan bila dibiarkan dalam kondisi demikian kulit akan berkerut. Mengeringkan kulit pada saat panas matahari dalam kondisi puncak (pada siang hari), akan mengakibatkan Collagen terbakar dan mengalami perubahan sifat (glue-forming), sehingga akan menjadi penghalang dalam pengolahan kulit selanjutnya. terutama dalam proses perendaman. Kerusakan kulit yang diawetkan dengan garam kering, ditandai dengan adanya flek biru, hijau. atau cokelat pada rajah. Kerusakan ini disebabkan pemakaian garam dengan konsentrasi yang kurang tepat. Flek-flek tersebut tidak dapat dihilangkan.

iii. Proses Penyimpanan

Sambil menunggu proses selanjutnya, kulit yang telah diawetkan tersebut harus disimpan. Penyimpanan harus dilakukan dengan baik. Karena dalam penyimpanan ini tetap ada kemungkinan terjadi kerusakan. Penyimpanan yang terlalu lama di dalam ruang berasap, dapat menurunkan kualitas kulit. Kontaminasi asap dengan rajah kulit akan mempengaruhi warna dan menyebabkan permukaan rajah menjadi kasar. Kulit yang diawetkan dengan penggaraman basah bila disimpan terlalu lama akan rusak karena bakteri pembusuk. Kulit yang disimpan di tempat yang basah atau lembap, lama-kelamaan akan ditumbuhi jamur di permukaannya, sehingga mudah menjadi suram dan bila dicat tidak dapat rata.

iv. Transportasi (pengangkutan)

Dalam pengangkutan kulit dapat pula timbul kerusakan yang merugikan misalnya, terjadinya gesekan-gesekan pada waktu pengangkutan yang dapat menyebabkan kerusakan pada rajah kulit. Apalagi bila menggunakan kawat untuk mengikat kulit, maka akan timbul bekas pada rajah yang sulit dihilangkan. Pengangkutan dalam waktu yang lama, akan menyebabkan kulit lembab, bercendawan. dan akhirnya busuk.

D. CACAT KULIT DAN PENYEBABNYA

Kulit binatang sangat besar manfaatnya dan tinggi nilai harganya dalam pembuatan produk dari kulit untuk kebutuhan manusia. Karena besarnya manfaat dan tingginya harga kuiit binatang ini, maka faktor-faktor yang mempengaruhi peternakan hewan terhadap kualitas kulit binatang perlu diperhatikan, seperti pengaruh iklim, perkembangbiakan, makanan ternak, perawatan, dsb. Uraian berikut menjelaskan ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kualitas kulit binatang agar tidak mengalami kecacatan dan berkualitas baik.

1. Pengaruh usaha ternak terhadap kualitas kulit

Pada dasarnya usaha peternakan ditujukan untuk menghasilkan bahan makanan berupa daging, susu, bagi kebutuhan manusia. Akan tetapi usaha, usaha peternakan juga bisa menghasilkan kulit yang merupakan komoditas unggulan dan sejajar dengan hasil yang berupa bahan makanan. Karena harganya yang cukup tinggi, maka sekarang usaha peterna kan juga sangat memperhatikan faktor-faktor yang bisa meningkatkan kualitas kulit.

2. Pengaruh Keadaan Kulit terhadap Kualitas Kulit

Kulit yang berkualitas baik adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sehat dan gizinya baik, sehingga menghasilkan kulit yang lemas dan dapat dilipat. Sedangkan kulit yang kualitasnya kurang adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sakit atau kondisinya tidak sehat, sehingga kondisi kulit menjadi kaku dan kering. Bila kita memotong hewan yang akan diambil dagingnya, maka hewan tersebut harus dalam keadaan sehat, sehingga kulitnya pun berkualitas baik.

3. Pengaruh Iklim terhadap Kualitas Kulit

Temperatur, tekanan udara, kelembaban dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang periu diperhatikan sebagai pengaruh iklim terhadap kualitas kulit. Peternakan hewan yang bertujuan untuk menghasilkan kulit binatang harus memperhatikan faktor-faktor tersebut agar kualitas kulit yang dihasilkan tetap baik. Setiap daerah mempunyai iklimnya sendiri, sehingga temak yang kulitnya akan diambil harus dipelihara sesuai dengan iklim yang cocok untuknya.

4. Pengaruh Adaptasi terhadap Kualitas Kulit

Perpindahan tempat akan berpengaruh terhadap hewan yang kulitnya akan diambil. Ada kalanya hewan tidak tahan terhadap bibit penyakit yang ada pada suatu daerah tempat ia berpindah. Hewan yang terkena penyakit akan menghasilkan kulit yang tidak berkualitas juga. Untuk itu, adaptasi hewan terhadap tempat baru juga harus mendapatkan perhatian.

5. Pengaruh Makanan terhadap Kualitas Kulit

Makanan yang baik akan berpengaruh terhadap berat badan hewan dan kesehatannya. Berat badan hewan berpengaruh terhadap kualitas kulit yang dihasilkannya.

6. Pengaruh Perawatan terhadap Kualitas Kulit

Kerusakan kulit juga merupakan akibat dari perawatan yang tidak baik terhadap hewan. Hal hal yang menyebabkan nilai kulit menurun misalnya hewan dicambuk, dipukul, terkena duri atau kawat, terbentur, dan sebagainya. Perlakuan semacam itu terhadap hewan akan berakibat peradangan atau luka pada kulit hewan, sehingga pada proses penyamakan akan menimbulkan tanda atau cacat yang mengurangi kualitas kulit.

E. PROSES PENGOLAHAN KULIT MENTAH

Kulit mentah ialah kulit binatang yang belum disamak (diawetkan dengan menggunakan obat penyamak). Kulit yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan kulit biasanya berasal dari kerbau dan sapi. Cara menentukan dan memilih bahan disesuaikan dengan bentuk dan kegunaan barang yang dibuat. Kulit perlu diolah terlebih dahulu sehingga menjadi bahan yang siap untuk dipakai menjadi bahan kerajinan kulit mentah.

1. Penanganan Kulit Segar

Kulit mentah yang berasal dari kambing disembelih harus ditangani secara baik dan benar agar dalam proses selanjutnya mempunyai mutu dan kualitas yang baik. Ada beberapa tahapn yang perlu diperhatikan dalam penanganan kulit :

i. Diesek (membuang kelebihan daging)

ii. Kulit yang baru dilepas dibersihkan kelebihan kulitnya dengan pisau yang tajam dan melengkung dari mata pisaunya

iii. Pencucian

iv. Sudah dicuci kulit disampirkan di atas sampiran kulit biarkan air menetes selama 30 menit

v. Sebelum diawetkan kulit segar dari pemotongan perlu ditimbang, penting untuk dikontrol berapa penyusutan berat sesudah dikeringkan untuk control pembasahan kembali

2. Pengawetan kulit

i. Kulit dibersihkan dari kotoran darah dan daging,

ii. Kulit direntang di lantai ditaburi garam secara merata, ditaburi garam ±  30 % dari berat kulit

iii. Kemudian ditaruh kulit lain diatasnya ditaburi garam begitu seterusnya sampai mencapai tinggi 1 meter. Dilakukan pengulangan setelah 1 minggu atau sampai 2 minggu

iv. Sudah selesai kulit digarami dapat disimpan sebagai kulit garaman. Dapat disimpan digudang kulit dan ditumpuk (± 1m) lama penyimpanan maksimal 1 bulan

F. PENYAMAKAN KULIT

Proses dalam industri penyamakan kulit bertujuan untuk merubah kulit hewan menjadi
lembaran-lembaran kulit jadi yang siap untuk dipergunakan menjadi bahan baku produk kulit seperti : sepatu, tas, kerajinan, dan lain-lain. Tantangan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan membuka pasar, ada satu hal lagi yang juga menjadi tantangan adalah limbah cair dari proses produksi. Bahan chroom yang digunakan untuk menyamak kulit ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama sekali pada kulit manusia. Alat dan mesin yang digunakan dalam melakukan proses penyamakan adalah sebagai berikut :

1. Timbangan, berfungsi untuk mengetahui berat kulit dan bahan-bahan kimi yang akan digunakan.

2. Pisau seset atau pisau fleshing, digunakan untuk membuang daging yang masih melekat pada kulit saat proses buang daging.

3. Papan kuda-kuda, digunakan untuk meniriskan atau menggantung kulit setelah proses penyamakan

4. Papan pentang, digunakan untuk mementang kulit agar kulit lebih lemas dan memperoleh luas yang maksimal.

5. Mesin ampelas, digunakan untuk meratakan bagian dalam kulit sehingga diperoleh kulit yang lebih tipis dan lemas.

6. Meja dan papan staking, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang dikerjakan secara manual.

7. Drum milling, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang telah disamak.

8. Drum putar (Tannning Drum), digunakan pada proses perendaman, pencucian, serta proses-proses lain yang mengunakan air dan bahan-bahan kimia.

9. Alat-alat lain yang digunakan adalah spraying, ember, corong plastik, selang air, gunting, pisau dan kertas pH.


Tahapan-tahapan  yang dilakukan dalam proses pengolahan kulit adalah sebagai berikut :

1. Sortasi dan penimbangan

Merupakan tahap persiapan kulit sebelum dilakukan proses penyamakan. Tahap ini merupakan tahap dimana kulit diseleksi untuk menetukan mana kulit yang layak untuk di proses. Setelah dilakukan seleksi maka kulit di timbang.

2. Proses perendaman (Soaking)

a. Tujuan dari proses ini adalah untuk melemaskan kulit terutama kulit kering, sehingga mendekati kulit hewan yang baru lepas dari badannya. Perendaman juga bertujuan untuk membuang darah, feces, tanah dan bahan atau zat-zat asing yang tidak hilang pada waktu pengawetan.

b. Bahan yang digunakan adalah air, teepol, soda abu.

3. Proses pengapuran (Liming)

a. Tujuan dari pengapuran adalah untuk membengkakkan kulit, mempermudah pembuangan bulu, epidermis dan lain-lain selama 24 jam.

b. Bahan yang digunakan adalah air, natrium sulfida, kapur.

4. Proses buang daging (Fleshing)

a. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan sisa-sisa daging yang masih menempel pada lapisan kulit bagian dalam.

b. Kulit yang masih terdapat daging dihilangkan dengan pisau seset atau dengan mesin buang daging.

5. Proses pengapuran ulang (Relimming)

a. Tujuan pengapuran ulang adalah untuk menghilangkan bulu dan zat-zat yang masih tertinggal pada kulit pada proses pengapuran pertama.

b. Bahan yang digunakan adalah air, dan kapur.

6. Proses buang kapur (Delimming)

a. Tujuan proses ini adalah untuk membuang sisa-sisa kapur, baik yang terikat maupun tidak terikat dalam kulit.

b. Bahan yang digunakan antara lain air, ZA, H2SO4 yang telah diencerkan 10X dengan air.

7. Proses pengikisan protein (Bating)

a. Tujuan proses ini adalah untuk memecahkan zat kulit dengan chemikalia yang mengandung protein.

b. Bahan bating yang digunakan adalah oropon.

8. Proses pembuangan lemak (Degreasing)

a. Tujuan proses pembuangan lemak adalah untuk membuang sisa-sisa lemak baik setelah pickle maupun sebelum proses penyamakan.

b. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain iragol dan atau sandopan DTC.

9. Proses pengasaman (Pickling)

a. Bertujuan untuk mengasamkan kulit pada pH 3 – 3,5.

b. Bahan pickle berasal dari asam-asam organik lemah seperti format dan laktat, selain itu juga menggunakan air, garam, HCOOH dan H2SO4.

10. Proses penyamakan (Tanning)

a. Bertujuan untuk menghindari kekakuan dan kekerasan kulit, sehingga kulit tetap lemas ketika dalam keadaan kering dan dapat bertahan lama.

b. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses ini diantaranya adalah mimosa, kroom, formalin, Na2CO3.

11. Proses penggantungan (Aging)

Setelah proses tanning maka kulit akan mengalami proses aging, dimana kulit digantungkan di atas kuda-kuda kayu dan biarkan agak kering tanpa penjemuran dengan sinar matahari. Setelah itu kulit ditimbang dan di cuci selama 15 menit.

12. Proses netralisasi (Neutralization)

a. Bertujuan untuk menetralkan asam bebas yang berada pada kulit.

b. Bahan-bahan yang dipakai untuk netralisasi yaitu bahan-bahan yang bersifat alkalis.

13. Proses penyamakan ulang (Retanning)

a. Penyamakan ulang dimaksudkan untuk memberikan sifat unggul yang lebih baik yang dimiliki bahan penyamak lain.

b. Bahan yang digunakan dalam proses ini adalah bahan penyamak sintesis, nabati atau mineral.

14. Proses pewarnaan dasar (Dyeing)

a. Proses ini bertujuan untuk memberikan warna dasar pada kulit tersamak agar dapat memperindah penampakan kulit jadi.

b. Bahan yang digunakan antara lain air, leveling agent, cat dasar, asam formiat.

15. Proses peminyakan (Fat Liquoring)

a. Proses peminyakan bertujuan untuk mendapatkan kulit samak yang lebih tahan terhadap gaya tarikan atau gaya mekanik lainnya, disamping itu untuk menjaga serat kulit agar tidak lengket satu dengan lainnya, sehingga kulit lebih lunak dan lemas.

b. Bahan yang digunakan adalah air, minyak sulphonasi dan ditambahkan anti jamur.

16. Proses fixasi (Fixation)

a. Proses ini bertujuan untuk memecahkan emulsi minyak dan air sehingga airnya mudah menguap pada saat dikeringkan.

b. Bahan kimia yang digunakan adalah HCOOH yang telah diencerkan 10X dengan air, dan ditambahkan anti jamur.

17. Proses pengeringan (Drying)

a. Tujuan dari proses pengeringan ini adalah mengurangi kadar air bebas di dalam kulit secara bertahap tanpa merusak kulit, zat penyamak dan minyak yang ada di dalam kulit.

b. Caranya dengan menggantung kulit pada kuda-kuda kayu dan diangin-anginkan.

18. Proses penyelesaian

Pada proses ini kulit di beri binder, pigment, penetrator, filler, wax, thinner atau lack sesuai dengan tujuan penggunaan kulit samak tersebut. Kulit yang telah di cat dan dikeringkan lalu disetrika atau diembosh untuk memberi motif pada permukaan kulit dan memperindah penampakannya

G. PENGELOLAAN LIMBAH

Dari proses penyamakan kulit secara garis besar limbah industri penyamakan kulit dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

1. Limbah Cair

2. Limbah Padat

3. Limbah Gas

a. Penanganan Limbah

Produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu dilaksanakan secara terus menerus pada proses produksi sehingga mengurangi resiko negative terhadap manusia dan lingkungan. Produksi bersih pada proses produksi berarti meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan bahan baku, energi, dan sumber daya lainnya, serta mengganti atau mengurangi jumlah dan toksisitas seluruh emisi dan limbah sebelum keluar dari proses.

Pencegahan, pengurangan, dan penghilangan limbah atau bahan pencemaran pada produksi kulit merupakan elemen utama dari produksi bersih. Kegiatan yang merupakan penerapan produksi bersih adalah:

1. Penghematan pemakaian air pencucian/pembilasan

2. Penghematan pemakaian zat kimia, misalkan penyamakan menggunakan garam krom dengan kadar larutan cukup dengan 8% tidak perlu dipakai 12%

3. Modifikasi proses, seperti pada proses pengapuran menggunakan drum dengan jumlah bahan-bahan yang dipakai dapat dikurangi (air, kapur, sulfida) atau dengan pemisahan cairan pada proses buang bulu dan pengapuran.

4. Pemakaian teknologi dan peralatan yang tepat.

b. Pemisahan Krom

Krom dapat dipisahkan dari cairan buangan dengan jalan mengendapkan kembali sebagai Krom Hidroksida dengan jalan penyaringan yang kemudian di daur ulang dengan cara sbb:

1. Air buangan dari penyamakan kromdan air pencucian (sebanyak 2 x 100% air) yang sudah bebas dari padatan diberi larutan magnesium hidroksida, dan diendapkan kira-kira 10 jam, yang kemudian cairan dipindahkan ke bak lain (dengan pipa penyedot, tetapi jangan sampai endapannya ikut tesedot). Cairan tersebut bila benar-benar bebas dari endapan akan mengandung Krom kurang dari 2 ppm sehingga bias langsung dibuang atau dipakai untuk daur ulang.

2. Endapan yang terjadi kemudian ditambah asam sulphat yang sesuai, endapan tersebut akan larut dalam waktu sekitar 15 menit dan akan memberikan suatu larutan Krom sebesar 50 gram krom oksida/liter. Pada daur ulang proses selanjutnya masih membutuhkan penambahan Krom kira-kira sejumlah 30%.

c. Pemanfaatan Limbah

Limbah padat dapat digunakan untuk :

1. Pakan ternak

2. Pupuk

3. Lem kayu

4. Asbes, hardboard

5. Bahan pembuat karpet

KOMPENEN PENGAWETAN KULIT

A. MACAM DAN JENIS KULIT

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Asal Hewan
    1. Hewan ternak : sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi.
    2. Hewan melata : buaya, biawak, komodo, ular, kodok
    3. Hewan air: ikan pari, ikan kakap, ikan tuna
    4. Hewan liar: gajah, harimau
    5. Burung : burung unta, ayam

  1. Pembagian Kelompok Kulit
    1. Kulit besar (sapi,kerbau, kuda, gajah)
    2. Kulit kecil (kambing, domba, kijang, kelinci)
    3. Kulit reptil (ular, buaya, biawak, kadal, kodok)
    4. Kulit ikan (pari, hiu, tuna).

Kualitas kulit dari hewan yang dagingnya di konsumsi :

a. Kulit Sapi

Sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan, ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi cukup kuat.

b. Kulit Kerbau

Kulit kerbau tidak jauh beda dengan kulit sapi, baik dari ukuran, kekuatan, dan keuletannya. Hanya saja kulit kerbau lebih tebal sedikit dibanding kulit sapi.

c. Kulit Kambing

Kulit kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya.

d. Kulit Domba

Selain ukurannya yang agak kecil dan bentuknya memanjang, kulit domba tidak banyak berbeda dengan kulit kambing.

  1. Jenis Kulit dalam Industri Perkulitan

Beberapa jenis kulit yang dihasilkan dari proses pengolahan kulit adalah :

    1. Kulit Full Grain

Kulit yang disamak dengan zat penyamak full krom dengan nerf atau rajah yang masih asli, tidak dibelah atau digosok. Jenis kulit seperti ini mempunyai kualitas tinggi sehingga dapat menaikkan harga kulit.

    1. Kulit Corrected Grain

Kulit yang disamak dengan zat penyamak krom, minyak, dan sebagainya karena kualitas kulit tidak baik yang disebabkan oleh cacat alami seperti dicambuk, penyakit cacar, ditusuk, dan sebagainya sehingga menimbulkan cacat pada permukaannya. Untuk mengantisipasi cacat yang ada pada permukaan kulit, maka kulit dihaluskan dengan mesin amplas sampai halus, kemudian dicat dengan menggunakan cat sintetis. Kualitas kulit ini kurang baik dan agak kaku.

    1. Kulit Light Buffing

Kulit ini proses pengerjaannya hampir sama dengan kulit corrected hanya bedanya kulit “light buffing” di amplas ringan pada permukaannya, jadi kulit ini kualitasnya lebih baik.

    1. Kulit Artificial

Kulit ini keindahannya terletak pada proses penyelesaian akhir, yaitu dengan cara memberi motif tertentu, misal buaya, biawak, ular, motif kulit jeruk dan sebagainya. Tujuan pemberian motif adalah untuk menutupi cacat yang diakibatkan oleh cacat alami atau mekanis. Kulit artificial sering menyerupai aslinya atau disebut kulit buatan.

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Istilahnya
    1. Kulit Batik

Kulit jadi dibuat dari domba/kambing

    1. Kulit Beledu

Kulit jadi dari kerbau, sapi, kuda, domba, kambing, dsb. yang disamak krom yang bagian nerf (permukaannya) diamplas halus; biasanya digunakan untuk sepatu, jaket, dan lain-lain.

    1. Kulit Boks (Full grain, corrected grain).

Kulit jadi yang umumnya dibuat dari kulit sapi dan lazim digunakan untuk kulit sepatu bagian atas (upperleather).

    1. Kulit Split

Kulit jadi dari sapi, kuda, kerbau, yang dibelah dengan mesin belah yang menghasilkan 2 bagian atau lebih, yaitu bagian nerf (grain split) dan daging (flesh split) yang digunakan untuk sepatu, sandal, ikat pinggang, dan sebagainya.

    1. Kulit Glace

Kulit matang dari kulit sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang disamak krom yang biasa digunakan untuk pembuatan sepatu wanita.

    1. Kulit Jaket

Kulit jadi/matang yang umumnya dibuat dari kulit domba, kambing yang lazim disamak krom dan umumnya digunakan untuk jaket.

    1. Kulit Kering

Kulit segar yang telah dikeringkan, biasanya dengan cara dijemur pada sinar matahari.

    1. Kulit Lapis (Lining)

Kulit jadi/matang dari kulit domba, kambing, sapi, kerbau yang lazim disamak nabati, diwarna atau tidak diwarna yang digunakan untuk pelapisan.

    1. Kulit Lap

Kulit jadi dari kulit domba, kambing yang disamak minyak dan diamplas pada bagian nerf hingga menghasilkan kulit lunak, rata dan lemas; biasanya digunakan untuk lap kaca, optik, dan lain-lainnya.

    1. Kulit Perkamen

Kulit mentah yang sudah dalam keadaan kering dan digunakan untuk pembuatan wayang, kap lampu, penyekat, kipas, bedug, dan sebagainya.

    1. Kulit Print

Kulit yang dicetak sesuai dengan gambar yang dikehendaki, misal motif kulit jeruk, buaya, biawak, dan sebabainya.

    1. Kulit Samak Bulu

Kulit dari sapi, kerbau, kuda, kambing, dan sebagainya. yang disamak krom atau kombinasi dengan tidak dilepas bulunya dan digunakan untuk jokmobil, jaket, mebel, dan lain-lain.

    1. Kulit Sarung Tangan

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, domba, kambing yang disamak krom dan hanya digunakan untuk sarung tangan.

    1. Kulit Sol

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, kerbau yang disamak dengan bahan nabati, biasanya digunakan untuk sepatu bagian bawah, pelana kuda, tempat kamera dan lain-lain.

    1. Kulit Tas atau Koper.

Kulit jadi/matang yang dibuat dari kulit sapi, kuda, kerbau yang disamak nabati dan digunakan untuk pakaian kuda, tas, koper, ikat pinggang.

    1. Kulit untuk alat olah raga.

Kulit jadi/matang dari kulit sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang digunakan untuk alat olah raga, misal kulit untuk bola, sepatu bola, shuttle cock, sarung tinju, dan lain-lain.

  1. Jenis Kulit Berdasarkan Kualitasnya
    1. Bagian punggung

Bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling kompak; luasnya 40 % dari seluruh luas kulit

    1. Bagian leher

Kulitnya agak tebal, sangat kompak tetapi ada beberapa kerutan

    1. Bagian bahu

Kulitnya lebih tipis, kualitasnya bagus, hanya terkadang ada kerutan yang dapat mengurangi kualitas

    1. Bagian perut dan paha

Struktur jaringan kurang kompak, kulit tipis dan mulur. Walaupun proses pengolahan atau pengawetan kulit telah dilakukan dengan hati-hati dan menurut ketentuan yang benar, namun ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kemungkinan setelah kering, kulit menjadi tidak sama kualitasnya.

Gambar 1. Sketsa bagian-bagian Kulit

A. Daerah Pipi

B. Daerah Pundak

C. Daerah Croupon

D. Daerah Badan

E. Daerah Pinggul

F. Daerah Perut

  1. Pembagian Kelas Kulit Berdasarkan Berat

Perbedaan kelas kulit mentah baik kulit sapi ataupun kerbau dapat diketahui melalui berat tiap-tiap lembar kulit. Untuk menentukan tingkatan berat ini digunakan tanda abjad (alfabet). Adapun penggolongan kulit berdasarkan beratnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

    1. Kelas A                   : kulit yang beratnya 0 kg – 3 kg/lembar.
    2. Kelas B                   : kulit yang beratnya 3 kg – 5 kg/lembar.
    3. Kelas C                   : kulit yang beratnya 5 kg – 7 kg/lembar.
    4. Kelas D                  : kulit yang beratnya 7 kg – 9 kg/lembar.
    5. Kelas E                   : kulit yang beratnya 9 kg/lembar atau lebih,

sedangkan untuk menunjukkan kulit sapi diberi tanda Z.

Pembagian kelas kulit mentah sapi dan kerbau berdasar beratnya, juga dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Kelas ringan         : kulit yang beratnya 1 kg – 6 kg/lembar.

2. Kelas sedang I      : kulit yang beratnya 6 kg – 8 kg/lembar.

3. Kelas sedang II    : kulit yang beratnya 8 kg -10 kg/lembar.

4. Kelas berat I         : kulit yang beratnya 10 kg -15 kg/lembar.

5. Kelas berat II        : kulit yang beratnya lebih dari 15 kg/lembar.

Kualitas Kulit Kambing/Domba

Persyaratan penentuan kelas kur kambing/domba, secara garis besar tidak jauh berbeda dengan penentuan kelas pada kulit sapi dan kerbau. Namun kulit kambing tidak ditentukan berdasarkan beratnya, melainkan berdasarkan panjang tengah-tengah dari ekor hingga leher, dan lebarnya kulit. Oleh karena itu pembagian kelas kambing/domba dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Kelas I                    : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 70 cm.

2. Kelas II                 : kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 60 cm

3. Kelas III                 : kulit yang panjangnya 90 cm, lebar 55 cm.

4. Kelas IV                 : kulit yang panjangnya 80 cm, lebar 50.

5. Kelas V                   : kulit yang panjangnya 70 cm, lebar 45 cm.

6. Kelas afkir            : kulit yang panjangnya kurang dari 70 cm.

7. Jenis-Jenis Kulit Jadi

Berbagai macam kulit hewan baik sapi, kerbau, kambing dan domba pada dasarnya dapat dibuat menjadi kulit-kulit di bawah ini.

1. Full Grain/Full Top Grain Leather

Dikatakan demikian bila tidak diratakan atau tidak dihaluskan pada bagian atasnya. Jadi ketika bagian luar kulit secara utuh masih alami dipertahankan selama proses penyamakan dinamakan Full Grain Leather.

2. Corrected Grain Leather

Kulit yang memiliki permukaan tambahan/buatan yang diemboss ke dalamnya setelah dihaluskan lebih bagian luar kulit yang kurang bagus.

3. Nappa Leather

Mulanya hanya kulit domba yang dinamakan Nappa. Tetapi belakangan ini kata ‘Nappa’ menjadi istilah kulit lain yang berarti ‘lembut’ seperti kulit sapi Nappa.

4. Patched Leather

Setelah kulit disamak, dicelup dan melalui proses akhir (finishing) sesuai keinginan, pengrajin yang terlatih kemudian memilih kulit yang cocok dalam warna dan teksturnya. Masing-masing lembaran kulit kemudian dipotong dengan tangan ke dalam ukuran yang berbeda-beda, lalu dijahit ke dalam corak-corak berbentuk mosaik menjadi produk akhir yang berbeda dari lainnya.

5. Patent Leather

Ketika kulit sapi dikerjakan dengan bahan akhir yang protektif seperti cat acrylic atau bahan tahan air untuk memproduksi hasil akhir yang sangat mengkilap.

6. Nubuck Leather

Kulit aniline penuh yang telah dihaluskan/diratakan untuk menciptakan bintik (naps). Nubuck termasuk Top Grain Leather sehingga tak bisa dikategorikan sebagai Split atau Suede. Permukaan kulit aniline Nubuck disikat untuk menciptakan tekstur seperti beludru, sehingga seringkali dikira suede. Suede adalah bagian dalam dari potongan kulit, sedangkan Nubuck adalah efek yang timbul dari pengerjaan di bagian luar kulit.

7. Suede Leather

Ketika kulit di-finish melalui penghalusan dengan roda emory untuk menciptakan suatu permukaan yang berbintik (naps). Suede terbuat dari lapisan yang dipisahkan dari bagian top grain suatu kulit.

8. Pull-up Leather

Kulit yang memperlihatkan efek warna meretak bila kulit ditarik ketat. Kulit ini menggunakan bahan celup full aniline, dan sebagai tambahan memiliki sejenis minyak dan/atau wax aplikasi, yang menyebabkan warna menjadi terlihat lebih muda ketika kulit ditarik.

B. STRUKTUR KULIT

Struktur kulit ialah kondisi susunan serat kulit yang kosong atau padat, dan bukan mengenai tebal atau tipisnya lembaran kulit. Dengan kata lain, menilai kepadatan jaringan kulit menurut kondisi asal (belum tersentuh pengolahan). Struktur kulit dapat dibedakan menjadi lima kelompok berikut :

1. Kulit berstruktur baik

Kulit yang berstruktur baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Perbandingan antara berat, tebal, dan luasnya seimbang. Perbedaan tebal antara bagian croupon, leher, dan perut hanya sedikit, dan bagian-bagian tersebut permukaannya rata.

b. Kulit terasa padat (berisi)

2. Kulit berstruktur buntal (Gedrongen)

Kulit yang berstruktur buntal memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Kulit tampak tebal, bila dilihat dari perbandingan antara berat dengan luas permukaan kulitnya.

b. Perbedaan antara croupun, leher, dan perut hanya sedikit.

3. Kulit berstruktur cukup baik.

Kulit yang berstruktur cukup baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Kulit tidak begitu tebal, bila dilihat dari perbandingan antara berat dengan luas permukaan kulit.

b. Kulit berisi dan tebalnya merata

4. Kulit berstruktur kurang baik

Kulit yang berstruktur kurang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Bagian croupun dan perut agak tipis, sedangkan bagian leher cukup tebal.

b. Peralihan dari bagian kulit yang tebal ke bagian kulit yang tipis tampak begitu menyolok.

c. Luas bagian perut agak berlebihan, sehingga bagian croupun luasnya berkurang.

5. Kulit berstruktur buruk

Kulit yang berstruktur buruk memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Bagian croupon tampak tipis dan kulit tidak berisi, sedangkan kulit bagian perut dan leher agak tebal.

b. Pada umumnya berasal dari kulit binatang yang berusia tua, luas croupon agak berkurang dan bagian perut lebar.

C. KERUSAKAN KULIT DAN KUALITAS KULIT

Kerusakan akan sangat berpengaruh pada kualitas atau mutu kulit yang dihasilkan. Ada kerusakan yang mengakibatkan cacat-cacat kulit sehingga menurunkan mutunya, tetapi ada pula kerusakan yang hanya menurunkan mutunya saja.

a. Busuk (rusak) yang terjadi pada kulit mentah, akan semakin parah pada saat proses perendaman dilakukan. Bila pengolahan dilanjutkan, maka akan dihasilkan kulit yang berkualitas rendah (jelek).

b. Irisan-irisan dalam yang terjadi pada saat pengulitan, akan menimbul-kan luka yang berbekas (tidak bisa hilang) dan membuat kulit mudah robek. Kulit yang demikian dikelompokkan dalam kulit berkualitas rendah.

c. Cacat yang disebabkan oleh penyakit kulit, akan menyebabkan timbulnya benjolan keras atau lekukan-lekukan pada permukaan kulit yang sulit dihilangkan. Bila dilakukan pewarnaan, warna tidak akan dapat merata, dan cat pada bagian kulit yang cacat tersebut mudah pecah dan terkelupas. Kulit dengan cacat seperti ini sangat terbatas pemanfaatannya.

d. Flek darah adalah cacat yang disebabkan oleh pukulan, cambukan, atau sebab mekanis lain, yang mengenai tubuh binatang pada masa hidupnya. Cacat flek darah ini dapat terjadi pula pada kulit yang berasal dari binatang yang mati sebelum dipotong. Kulit yang demikian, bila digunakan sebagai kulit perkamen, tidak akan banyak berpengaruh karena kekuatan kulit masih sama, hanya dengan warna yang kuning menarik. Namun, bila kulit tersebut disamak, akan menjadi leather (kulit-jadi) yang tidak rata, karena permukaan kulit yang tidak cacat akan berwarna mengkilap, tetapi bagian kulit yang cacat, akan buram.

Kerusakan kulit mentah pada dasamya dibedakan menjadi dua macam, yaitu: kerusakan ante-mortem dan post-mortem

a. Kerusakan ante-Mortem

Kerusakan ante-mortem adalah kerusakan kulit mentah yang terjadi pada saat hewan (binatang) masih hidup. Kerusakan kulit dapat disebabkan oleh beberapa macam, antara lain sebagai berikut :

i. Parasit

Jenis sumber kerusakan ini misalnya: saroptik, demodex atau demodecosis, caplak, dan kutu. Beberapa jenis parasit ini mengakibatkan rusaknya rajah pada kulit yang ditandai dengan adanya lubang-lubang kecil, tidak ratanya permukaan kulit atau adanya lekukan-lekukan kecil.

ii. Penyakit

Banyak faktor yang menyebabkan binatang menjadi sakit, misalnya akibat kurang baik dalam pemeliharaan. Bila penyakit tidak segera diobati, akan berpengaruh terhadap kualitas kulitnya, yang kadang sulit diperbaiki. Penyakit demam yang berkepanjangan, misalnya sampar lembu dan trypono-somiosis akan menyebabkan struktur jaringan kulit menjadi lunak. Lalat hypoderma bowis, menyebabkan kulit berlubang-lubang keril yang tersebar di seluruh bagian luar kulit. Kemudian, kerusakan yang disebabkan oleh kutu busuk, ditandai dengan adanya benjolan-benjolan kecil yang keras pada bagian bulu. Bila kulit mengalami kerusakan baik struktur maupun permukaannya, akan menyebabkan kualitas kulit menjadi rendah. Di samping penyakit hewan seperti tersebut di atas, terdapat pula bermacam bakteri, virus, jamur (fungi) yang membuat kerusakan-kerusakan lokal yang sangat sulit untuk diperbaiki. Kerusakan yang diakibatkan oleh bakteri adalah kulit menjadi busuk, dan kerusakan ini terjadi pada kulit sebelum diawetkan. Ada pula penyakit musiman yang dapat membuat kerusakan besar pada kulit.

iii. Umur tua

Binatang yang berumur tua, memiliki kulit yang berkualitas rendah. Pada kulit binatang yang telah mati sebelum dipotong, akan terdapat pembekuan-pembekuan darah yang tidak mungkin dihilangkan.

iv. Sebab mekanis

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan terhadap binatang, yang dapat menurunkan kualitas kulitnya. Cap bakar yang dipakai dalam identifikasi atau pengobatan, akan mengakibatkan rusaknya kulit yang tidak mungkin untuk diperbaiki. Cap bakar, menyebabkan Corium menjadi keras atau kaku dan tidak akan hilang. Goresan-goresan duri, kawat berduri, tanduk, berbagai tekanan, sabetan cemeti (cambuk), alat-alat pengendali, dan lain sebagainya, juga dapat menyebabkan kerusakan kulit. Kerusakan kulit mekanis ini sering dijumpai pada binatang piaraan yang digunakan dalam kepentingan pertanian atau industri. Namun, kerusakan mekanis ini tidak separah kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit. Di samping itu, pukulan-pukulan yang dilakukan terhadap binatang sebelum dipotong, dapat menyebabkan memar pada kulit, sehingga darah akan menggumpal. Karena penggumpalan darah itu, pembuluh darah akan mengalami kerusakan, sehingga kulit menjadi berwarna merah kehitam-hitaman. Bila hal ini terjadi, maka akan memudahkan pembusukan pada saat proses pengeringan.

b. Kerusakan post-Mortem

Kerusakan post-mortem adalah kerusakan kulit yang terjadi pada saat pengolahan kulit seperti :

i. Proses Pengulitan

Pengulitan merupakan proses pemisahan kulit dari tubuh binatang dengan cara pemotongan serabut kulit lunak. Oleh karena itu, dalam pengulitan ini dibutuhkan keahlian khusus. Pada kegiatan ini, kerusakan kulit dapat terjadi karena kesalahan dalam penggunaan peralatan, misalnya pisau. Hal ini dapat disebabkan karena kurang ahlinya orang yang menggunakan peralatan pada proses pengulitan ini. Pemotongan dan pengulitan harus dilakukan pada tempat yang memenuhi persyaratan, jangan sampai dilakukan di lantai yang kasar, yang dapat mengakibatkan kerusakan rajah kulit akibat pergesekan. Kebersihan binatang sebelum dipotong juga perlu diperhatikan, karena merupakan salah satu faktor penentu mutu kulit yang dihasilkan. Bila pelaksanaan pengulitan ini tidak sesuai dengan aturan, akan berakibat bentuk kulit tidak baik dan tidak normal. Dalam pengulitan ini, pembersihan kulit dari sisa-sisa daging yang melekat pada Corium harus dilakukan sebaik mungkin, karena sisa daging yang tertinggal dapat menjadi sumber tumbuhnya bakteri pembusuk kulit, yang dapat menyebabkan terjadinya pembusukan kulit.

ii. Proses Pengawetan

Kerusakan kulit dapat terjadi pula pada saat pengawetan. Misalnya, pengawetan dengan sinar matahari yang dilakukan di atas tanah akan menurunkan kualitas kulit, karena proses pengeringan tidak merata. Kulit bagian luar terlalu kering, sedangkan bagian tengah dan dalam masili basah, dengan demikian masih memungkinkan mikroorganisme pembusuk (flek busuk) yang disebut dengan sun-blister tetap hidup dan berkembang biak. Sebaliknya, kulit bagian luar yang terlalu kering akan membuat rajah menjadi pecah-pecah dan bila dibiarkan dalam kondisi demikian kulit akan berkerut. Mengeringkan kulit pada saat panas matahari dalam kondisi puncak (pada siang hari), akan mengakibatkan Collagen terbakar dan mengalami perubahan sifat (glue-forming), sehingga akan menjadi penghalang dalam pengolahan kulit selanjutnya. terutama dalam proses perendaman. Kerusakan kulit yang diawetkan dengan garam kering, ditandai dengan adanya flek biru, hijau. atau cokelat pada rajah. Kerusakan ini disebabkan pemakaian garam dengan konsentrasi yang kurang tepat. Flek-flek tersebut tidak dapat dihilangkan.

iii. Proses Penyimpanan

Sambil menunggu proses selanjutnya, kulit yang telah diawetkan tersebut harus disimpan. Penyimpanan harus dilakukan dengan baik. Karena dalam penyimpanan ini tetap ada kemungkinan terjadi kerusakan. Penyimpanan yang terlalu lama di dalam ruang berasap, dapat menurunkan kualitas kulit. Kontaminasi asap dengan rajah kulit akan mempengaruhi warna dan menyebabkan permukaan rajah menjadi kasar. Kulit yang diawetkan dengan penggaraman basah bila disimpan terlalu lama akan rusak karena bakteri pembusuk. Kulit yang disimpan di tempat yang basah atau lembap, lama-kelamaan akan ditumbuhi jamur di permukaannya, sehingga mudah menjadi suram dan bila dicat tidak dapat rata.

iv. Transportasi (pengangkutan)

Dalam pengangkutan kulit dapat pula timbul kerusakan yang merugikan misalnya, terjadinya gesekan-gesekan pada waktu pengangkutan yang dapat menyebabkan kerusakan pada rajah kulit. Apalagi bila menggunakan kawat untuk mengikat kulit, maka akan timbul bekas pada rajah yang sulit dihilangkan. Pengangkutan dalam waktu yang lama, akan menyebabkan kulit lembab, bercendawan. dan akhirnya busuk.

D. CACAT KULIT DAN PENYEBABNYA

Kulit binatang sangat besar manfaatnya dan tinggi nilai harganya dalam pembuatan produk dari kulit untuk kebutuhan manusia. Karena besarnya manfaat dan tingginya harga kuiit binatang ini, maka faktor-faktor yang mempengaruhi peternakan hewan terhadap kualitas kulit binatang perlu diperhatikan, seperti pengaruh iklim, perkembangbiakan, makanan ternak, perawatan, dsb. Uraian berikut menjelaskan ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kualitas kulit binatang agar tidak mengalami kecacatan dan berkualitas baik.

1. Pengaruh usaha ternak terhadap kualitas kulit

Pada dasarnya usaha peternakan ditujukan untuk menghasilkan bahan makanan berupa daging, susu, bagi kebutuhan manusia. Akan tetapi usaha, usaha peternakan juga bisa menghasilkan kulit yang merupakan komoditas unggulan dan sejajar dengan hasil yang berupa bahan makanan. Karena harganya yang cukup tinggi, maka sekarang usaha peterna kan juga sangat memperhatikan faktor-faktor yang bisa meningkatkan kualitas kulit.

2. Pengaruh Keadaan Kulit terhadap Kualitas Kulit

Kulit yang berkualitas baik adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sehat dan gizinya baik, sehingga menghasilkan kulit yang lemas dan dapat dilipat. Sedangkan kulit yang kualitasnya kurang adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sakit atau kondisinya tidak sehat, sehingga kondisi kulit menjadi kaku dan kering. Bila kita memotong hewan yang akan diambil dagingnya, maka hewan tersebut harus dalam keadaan sehat, sehingga kulitnya pun berkualitas baik.

3. Pengaruh Iklim terhadap Kualitas Kulit

Temperatur, tekanan udara, kelembaban dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang periu diperhatikan sebagai pengaruh iklim terhadap kualitas kulit. Peternakan hewan yang bertujuan untuk menghasilkan kulit binatang harus memperhatikan faktor-faktor tersebut agar kualitas kulit yang dihasilkan tetap baik. Setiap daerah mempunyai iklimnya sendiri, sehingga temak yang kulitnya akan diambil harus dipelihara sesuai dengan iklim yang cocok untuknya.

4. Pengaruh Adaptasi terhadap Kualitas Kulit

Perpindahan tempat akan berpengaruh terhadap hewan yang kulitnya akan diambil. Ada kalanya hewan tidak tahan terhadap bibit penyakit yang ada pada suatu daerah tempat ia berpindah. Hewan yang terkena penyakit akan menghasilkan kulit yang tidak berkualitas juga. Untuk itu, adaptasi hewan terhadap tempat baru juga harus mendapatkan perhatian.

5. Pengaruh Makanan terhadap Kualitas Kulit

Makanan yang baik akan berpengaruh terhadap berat badan hewan dan kesehatannya. Berat badan hewan berpengaruh terhadap kualitas kulit yang dihasilkannya.

6. Pengaruh Perawatan terhadap Kualitas Kulit

Kerusakan kulit juga merupakan akibat dari perawatan yang tidak baik terhadap hewan. Hal hal yang menyebabkan nilai kulit menurun misalnya hewan dicambuk, dipukul, terkena duri atau kawat, terbentur, dan sebagainya. Perlakuan semacam itu terhadap hewan akan berakibat peradangan atau luka pada kulit hewan, sehingga pada proses penyamakan akan menimbulkan tanda atau cacat yang mengurangi kualitas kulit.

E. PROSES PENGOLAHAN KULIT MENTAH

Kulit mentah ialah kulit binatang yang belum disamak (diawetkan dengan menggunakan obat penyamak). Kulit yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan kulit biasanya berasal dari kerbau dan sapi. Cara menentukan dan memilih bahan disesuaikan dengan bentuk dan kegunaan barang yang dibuat. Kulit perlu diolah terlebih dahulu sehingga menjadi bahan yang siap untuk dipakai menjadi bahan kerajinan kulit mentah.

1. Penanganan Kulit Segar

Kulit mentah yang berasal dari kambing disembelih harus ditangani secara baik dan benar agar dalam proses selanjutnya mempunyai mutu dan kualitas yang baik. Ada beberapa tahapn yang perlu diperhatikan dalam penanganan kulit :

i. Diesek (membuang kelebihan daging)

ii. Kulit yang baru dilepas dibersihkan kelebihan kulitnya dengan pisau yang tajam dan melengkung dari mata pisaunya

iii. Pencucian

iv. Sudah dicuci kulit disampirkan di atas sampiran kulit biarkan air menetes selama 30 menit

v. Sebelum diawetkan kulit segar dari pemotongan perlu ditimbang, penting untuk dikontrol berapa penyusutan berat sesudah dikeringkan untuk control pembasahan kembali

2. Pengawetan kulit

i. Kulit dibersihkan dari kotoran darah dan daging,

ii. Kulit direntang di lantai ditaburi garam secara merata, ditaburi garam ±  30 % dari berat kulit

iii. Kemudian ditaruh kulit lain diatasnya ditaburi garam begitu seterusnya sampai mencapai tinggi 1 meter. Dilakukan pengulangan setelah 1 minggu atau sampai 2 minggu

iv. Sudah selesai kulit digarami dapat disimpan sebagai kulit garaman. Dapat disimpan digudang kulit dan ditumpuk (± 1m) lama penyimpanan maksimal 1 bulan

F. PENYAMAKAN KULIT

Proses dalam industri penyamakan kulit bertujuan untuk merubah kulit hewan menjadi
lembaran-lembaran kulit jadi yang siap untuk dipergunakan menjadi bahan baku produk kulit seperti : sepatu, tas, kerajinan, dan lain-lain. Tantangan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan membuka pasar, ada satu hal lagi yang juga menjadi tantangan adalah limbah cair dari proses produksi. Bahan chroom yang digunakan untuk menyamak kulit ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama sekali pada kulit manusia. Alat dan mesin yang digunakan dalam melakukan proses penyamakan adalah sebagai berikut :

1. Timbangan, berfungsi untuk mengetahui berat kulit dan bahan-bahan kimi yang akan digunakan.

2. Pisau seset atau pisau fleshing, digunakan untuk membuang daging yang masih melekat pada kulit saat proses buang daging.

3. Papan kuda-kuda, digunakan untuk meniriskan atau menggantung kulit setelah proses penyamakan

4. Papan pentang, digunakan untuk mementang kulit agar kulit lebih lemas dan memperoleh luas yang maksimal.

5. Mesin ampelas, digunakan untuk meratakan bagian dalam kulit sehingga diperoleh kulit yang lebih tipis dan lemas.

6. Meja dan papan staking, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang dikerjakan secara manual.

7. Drum milling, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang telah disamak.

8. Drum putar (Tannning Drum), digunakan pada proses perendaman, pencucian, serta proses-proses lain yang mengunakan air dan bahan-bahan kimia.

9. Alat-alat lain yang digunakan adalah spraying, ember, corong plastik, selang air, gunting, pisau dan kertas pH.


Tahapan-tahapan  yang dilakukan dalam proses pengolahan kulit adalah sebagai berikut :

1. Sortasi dan penimbangan

Merupakan tahap persiapan kulit sebelum dilakukan proses penyamakan. Tahap ini merupakan tahap dimana kulit diseleksi untuk menetukan mana kulit yang layak untuk di proses. Setelah dilakukan seleksi maka kulit di timbang.

2. Proses perendaman (Soaking)

a. Tujuan dari proses ini adalah untuk melemaskan kulit terutama kulit kering, sehingga mendekati kulit hewan yang baru lepas dari badannya. Perendaman juga bertujuan untuk membuang darah, feces, tanah dan bahan atau zat-zat asing yang tidak hilang pada waktu pengawetan.

b. Bahan yang digunakan adalah air, teepol, soda abu.

3. Proses pengapuran (Liming)

a. Tujuan dari pengapuran adalah untuk membengkakkan kulit, mempermudah pembuangan bulu, epidermis dan lain-lain selama 24 jam.

b. Bahan yang digunakan adalah air, natrium sulfida, kapur.

4. Proses buang daging (Fleshing)

a. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan sisa-sisa daging yang masih menempel pada lapisan kulit bagian dalam.

b. Kulit yang masih terdapat daging dihilangkan dengan pisau seset atau dengan mesin buang daging.

5. Proses pengapuran ulang (Relimming)

a. Tujuan pengapuran ulang adalah untuk menghilangkan bulu dan zat-zat yang masih tertinggal pada kulit pada proses pengapuran pertama.

b. Bahan yang digunakan adalah air, dan kapur.

6. Proses buang kapur (Delimming)

a. Tujuan proses ini adalah untuk membuang sisa-sisa kapur, baik yang terikat maupun tidak terikat dalam kulit.

b. Bahan yang digunakan antara lain air, ZA, H2SO4 yang telah diencerkan 10X dengan air.

7. Proses pengikisan protein (Bating)

a. Tujuan proses ini adalah untuk memecahkan zat kulit dengan chemikalia yang mengandung protein.

b. Bahan bating yang digunakan adalah oropon.

8. Proses pembuangan lemak (Degreasing)

a. Tujuan proses pembuangan lemak adalah untuk membuang sisa-sisa lemak baik setelah pickle maupun sebelum proses penyamakan.

b. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain iragol dan atau sandopan DTC.

9. Proses pengasaman (Pickling)

a. Bertujuan untuk mengasamkan kulit pada pH 3 – 3,5.

b. Bahan pickle berasal dari asam-asam organik lemah seperti format dan laktat, selain itu juga menggunakan air, garam, HCOOH dan H2SO4.

10. Proses penyamakan (Tanning)

a. Bertujuan untuk menghindari kekakuan dan kekerasan kulit, sehingga kulit tetap lemas ketika dalam keadaan kering dan dapat bertahan lama.

b. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses ini diantaranya adalah mimosa, kroom, formalin, Na2CO3.

11. Proses penggantungan (Aging)

Setelah proses tanning maka kulit akan mengalami proses aging, dimana kulit digantungkan di atas kuda-kuda kayu dan biarkan agak kering tanpa penjemuran dengan sinar matahari. Setelah itu kulit ditimbang dan di cuci selama 15 menit.

12. Proses netralisasi (Neutralization)

a. Bertujuan untuk menetralkan asam bebas yang berada pada kulit.

b. Bahan-bahan yang dipakai untuk netralisasi yaitu bahan-bahan yang bersifat alkalis.

13. Proses penyamakan ulang (Retanning)

a. Penyamakan ulang dimaksudkan untuk memberikan sifat unggul yang lebih baik yang dimiliki bahan penyamak lain.

b. Bahan yang digunakan dalam proses ini adalah bahan penyamak sintesis, nabati atau mineral.

14. Proses pewarnaan dasar (Dyeing)

a. Proses ini bertujuan untuk memberikan warna dasar pada kulit tersamak agar dapat memperindah penampakan kulit jadi.

b. Bahan yang digunakan antara lain air, leveling agent, cat dasar, asam formiat.

15. Proses peminyakan (Fat Liquoring)

a. Proses peminyakan bertujuan untuk mendapatkan kulit samak yang lebih tahan terhadap gaya tarikan atau gaya mekanik lainnya, disamping itu untuk menjaga serat kulit agar tidak lengket satu dengan lainnya, sehingga kulit lebih lunak dan lemas.

b. Bahan yang digunakan adalah air, minyak sulphonasi dan ditambahkan anti jamur.

16. Proses fixasi (Fixation)

a. Proses ini bertujuan untuk memecahkan emulsi minyak dan air sehingga airnya mudah menguap pada saat dikeringkan.

b. Bahan kimia yang digunakan adalah HCOOH yang telah diencerkan 10X dengan air, dan ditambahkan anti jamur.

17. Proses pengeringan (Drying)

a. Tujuan dari proses pengeringan ini adalah mengurangi kadar air bebas di dalam kulit secara bertahap tanpa merusak kulit, zat penyamak dan minyak yang ada di dalam kulit.

b. Caranya dengan menggantung kulit pada kuda-kuda kayu dan diangin-anginkan.

18. Proses penyelesaian

Pada proses ini kulit di beri binder, pigment, penetrator, filler, wax, thinner atau lack sesuai dengan tujuan penggunaan kulit samak tersebut. Kulit yang telah di cat dan dikeringkan lalu disetrika atau diembosh untuk memberi motif pada permukaan kulit dan memperindah penampakannya

G. PENGELOLAAN LIMBAH

Dari proses penyamakan kulit secara garis besar limbah industri penyamakan kulit dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

1. Limbah Cair

2. Limbah Padat

3. Limbah Gas

a. Penanganan Limbah

Produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu dilaksanakan secara terus menerus pada proses produksi sehingga mengurangi resiko negative terhadap manusia dan lingkungan. Produksi bersih pada proses produksi berarti meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan bahan baku, energi, dan sumber daya lainnya, serta mengganti atau mengurangi jumlah dan toksisitas seluruh emisi dan limbah sebelum keluar dari proses.

Pencegahan, pengurangan, dan penghilangan limbah atau bahan pencemaran pada produksi kulit merupakan elemen utama dari produksi bersih. Kegiatan yang merupakan penerapan produksi bersih adalah:

1. Penghematan pemakaian air pencucian/pembilasan

2. Penghematan pemakaian zat kimia, misalkan penyamakan menggunakan garam krom dengan kadar larutan cukup dengan 8% tidak perlu dipakai 12%

3. Modifikasi proses, seperti pada proses pengapuran menggunakan drum dengan jumlah bahan-bahan yang dipakai dapat dikurangi (air, kapur, sulfida) atau dengan pemisahan cairan pada proses buang bulu dan pengapuran.

4. Pemakaian teknologi dan peralatan yang tepat.

b. Pemisahan Krom

Krom dapat dipisahkan dari cairan buangan dengan jalan mengendapkan kembali sebagai Krom Hidroksida dengan jalan penyaringan yang kemudian di daur ulang dengan cara sbb:

1. Air buangan dari penyamakan kromdan air pencucian (sebanyak 2 x 100% air) yang sudah bebas dari padatan diberi larutan magnesium hidroksida, dan diendapkan kira-kira 10 jam, yang kemudian cairan dipindahkan ke bak lain (dengan pipa penyedot, tetapi jangan sampai endapannya ikut tesedot). Cairan tersebut bila benar-benar bebas dari endapan akan mengandung Krom kurang dari 2 ppm sehingga bias langsung dibuang atau dipakai untuk daur ulang.

2. Endapan yang terjadi kemudian ditambah asam sulphat yang sesuai, endapan tersebut akan larut dalam waktu sekitar 15 menit dan akan memberikan suatu larutan Krom sebesar 50 gram krom oksida/liter. Pada daur ulang proses selanjutnya masih membutuhkan penambahan Krom kira-kira sejumlah 30%.

c. Pemanfaatan Limbah

Limbah padat dapat digunakan untuk :

1. Pakan ternak

2. Pupuk

3. Lem kayu

4. Asbes, hardboard

Bahan pembuat karpet

7 Responses to Kulit

  1. Fan says:

    Dear Admin
    kalo ada istilah “Vegetable natural ox leather ” ini sebenarnya kulit apa ya?
    kalo di garde dari Full gain Leather ini di range mana?

    Terimakasih

  2. onnyss@hotmail.com says:

    Hai sy mencari kulit kambing perkamen dalam jumlah banyak dan kesinambungan. Bisa tolong kasih rekomendasi nama dan nomor telepon . Sy bisa di hubungi di onnyss@hotmail.com

  3. Santy says:

    Pak & bu, mau tanya, saya punya tas kulit sapi metah, itu kulitnya agak kaku, bagaimana caranya atau adakah obat yg perlu saya oleskan ke tas saya agar kulit tas saya bisa lemas, trims.

  4. Nandang says:

    pak saya ingin membuat k ulit sepinilan (natural) gimana caranya,formulasinya gimana apa aja .

  5. firman says:

    Dear admin
    Di daerah jabodetabek yg menjual kulit full grain dimana ya? Harga satuannya berapa? Lalu apakah kulit full grain cocok untuk dibuat tas, sepatu, n mebel? Lalu sebenarnya produk kulit ini bisa bertahan berapa lama? Karena saya liat ada beberapa merek yg berani memberi garansi 100thn
    Terima kasih

  6. Vale Sedici says:

    Bahasan lengkap. Mas. Bagus

  7. Satya says:

    Nice Post, Thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s