Bahan Pakan Ternak

Zat Nutrien (makanan)

Zat nutrien adalah zat-zat gizi di dalam bahan pakan yang sangat diperlukan untuk hidup ternak meliputi protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air

Bahan Pakan

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Bahan pakan terdiri dari 2 kelompok, yaitu bahan pakan asal tanaman dan asal non tanaman (ternak atau ikan). Berdasarkan sifat fisik dan kimianya dibedakan menjadi : Hijauan kering, jerami, tanaman padangan rumput, silage dan haylage; hijauan segar; sumber energi; sumber protein; suplemen vitamin, mineral; aditif dan non aditif. Kualitas suatu bahan pakan ditentukan oleh kandungan zat nutrien atau komposisi kimianya, serta tinggi rendahnya zat anti-nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan.

Pakan Hijauan Untuk Domba-Kambing

Secara umum sumber bahan pakan untuk ternak dibagi menjadi 2 yaitu hijauan dan non hijauan.  Berdasarkan asalnya, sumber hijauan banyak didapatkan dari jenis rumput, legum dan daun-daunan sedangkan sumber non hijauan banyak didapatkan dari biji-bijian dan bahan sumber mineral. Secara pengadaannya, hijauan dapat disediakan secara alami ataupun buatan (dengan budidaya). Untuk pengadaan secara alami biasanya sudah tersedia di alam atau tumbuh dengan sendirinya di lahan-lahan tertentu seperti perkebunan, pertanian dan kehutanan. Sedangkan pengadaan secara budidaya harus melalui penanaman dan pemeliharaan secara intensif.

Potensi Hijauan

Hijauan adalah salah satu jenis bahan makanan ternak yang berasal dari tanaman dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh ternak. Berdasarkan penyajiannya, hijauan dibedakan menjadi hijauan segar (Kadar air > 80 %) dan hijauan kering (Kadar air < 80 %). Setiap jenis hijauan memiliki karakteristik yang berbeda diantaranya dari ciri, morfologi (bentuk, warna dan bau) dan nilai gizinya. Sedangkan berdasarkan kelompoknya (family), hijauan dibagi menjadi 3 kelompok besar, yakni :

Kelompok rumput-rumputan (Graminae)diantaranya adalah :

  1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
  2. Rumput Raja (King grass)
  3. Rumput Benggala (Panicum maximum)
  4. Rumput Meksiko (Euchlaena mexicana)
  5. Rumput Setari (Setaria sphacelata)
  6. Rumput Signal (Brachiaria decumbens)
  7. Rumput Para (Brachiaria mutica)
  8. Rumput Pangola (Digitaria decumbens)
  9. Rumput Jaragua (Hyparrhenia rufa)
  10. Rumput Paspalum dilatatum
  11. Rumpur Rhodes (Chloris gayana)
  12. Rumput Jukut caladi (Melinis minutiflora)
  1. Kelompok kacang-kacangan (Leguminoceae) diantaranya adalah :
    1. Kacang Kupu (Centrocema pubescens)
    2. Gamal (Gliricidia sepium)
    3. Lamtoro (Leucaena leucocephala)
    4. Turi (Sesbania grandiflora)
    5. Kaliandra (Calliandra calothyrsus)
    6. Kacang-kacangan (Arachis pintoii)
    7. Kacang-kacangan (Arachis glabrata)
  2. Kelompok daun-daunan diantaranya adalah :
    1. Daun Nangka
    2. Daun Pepaya
    3. Daun Pisang
    4. Daun Ubi jalar
    5. Daun Singkong
    6. Babadotan
    7. Paku-pakuan

Karakteristik Hijauan

Setiap jenis hijauan memiliki karakteristik yang berbeda. Dimulai dari perakaran, batang, helai daun, bunga, biji dan tipe pertumbuhan dari masing-masing hijauan memiliki ciri dan morfologi yang khas mencakup bentuk, warna dan bau. Berikut adalah beberapa contoh hijauan dengan karakteristiknya.

Rumput Gajah

Tanaman ini berasal dari Afrika daerah Perennial.  Pada 1940 disebarkan ke Brazil dan Australia kemudian dikembangkan secara komersil pada 1962. Penyebaran tanaman ini dilakukan di Indonesia mulai tahun 1926. Tanaman ini memiliki ciri morfologi sebagai berikut :

  1. Tinggi tanaman : 3–7 m.
  2. Panjang daun 16-90 cm dan Lebar daun 8-35 mm.
  3. Perakaran sampai 4,5 m di bawah permukaan tanah.
  4. Dalam satu rumpun terdiri dari 20-50 batang.
  5. Kultivar yang sudah ada : Afrika (tidak berbulu), Trinidad (tidak tahan penyakit Helminthosporium), Uganda (tahan penyakit Helminthosporium) dan Hawaii (tinggi).
  6. Memiliki keunggulan yaitu baik untuk bahan silage dan rumput potong dan kelemahannya adalah dengan meningkatnya umur tanaman maka akan disertai dengan meningkatnya rasio batang-daun sehingga mengakibatkan penurunan nilai nutrisi.
  7. Rumput Gajah dapat tumbuh beradaptasi pada ketinggian 0-3000 m dpl dengan curah hujan 1000-2500 mm/tahun. Kondisi kemasaman (pH) tanah yang baik untuk tanaman ini berkisar 5,5-7.

Rumput Benggala (Panicum maximum)

Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak membentuk rumpun seperti padi. Tinggi bisa mencapai 0.5-2 meter. Sistem perakarannya dalam dan menyebar luas. Tahan terhadap musim kering. Tekstur daun halus dan berwarna hijau tua. Umumnya tahan terhadap lindungan sehingga memungkinkan untuk ditanam di antara pohon-pohon perkebunan. Dapat tumbuh pada tempat dengan ketinggian sampai 1.950 m dpl dan curah hujan 1000-2000 mm/tahun. Pembiakan jenis rumput ini bisa dengan biji atau sobekan rumpun. Kebutuhan biji untuk penanaman berkisar 4-11 kg/ha tergantung jarak tanam yang digunakan. Beberapa varietas dan kultivar yang dikenal adalah varietas Trichoglume, cv Sabi, cv Gatton, cv Hamil, dan lain-lainnya.

Rumput Meksiko (Euchlaena mexicana)

Jenis rumput ini berasal dari negara Meksiko (Amerika tengah). Bentuk daun tanaman ini seperti daun jagung, bertekstur halus dengan warna hijau tua. Tanaman ini termasuk berumur pendek (annual), tumbuh tegak mencapai tinggi sampai 2.5 m. Tanaman ini bisa tumbuh baik pada tempat yang memiliki tanah berstruktur sedang atau berat dengan ketinggian sampai 1.200 m dpl dan curah hujan 2.000 m/tahun. Biasanya tanaman ini diperbanyak dengan sobekan rumpun (pols).

Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Daun tanaman ini cukup halus dan berwarna hijau kelabu. Jenis rumput ini dapat tumbuh baik pada tanah berstruktur ringan, sedang dan berat dengan ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dan curah hujan > 1.000 m dpl. Tanaman ini cukup responsif terhadap pemupukan N. Biasanya lebih mudah diperbanyak dengan sobekan rumpun (pols).

Rumput Pangola (Digitaria decumbens)

Merupakan tanaman tahunan yang berkembang dengan stolon membentuk hamparan yang tidak rapat dengan ketinggian 60-120 cm. Bentuk daun tanaman ini memanjang dan kecil berwarna hijau cerah serta tekstur yang licin. Disukai oleh ternak dan cukup palatabel. Berasal dari Afrika Selatan. Jenis rumput ini tidak tahan terhadap penggembalaan yang berat dan terus menerus. Padang penggembalaan perlu dipangkas dengan cara dipotong atau dengan penggembalaan ringan 6-8 minggu setelah penanaman. Dapat tumbuh pada tempat yang memiliki tanah berstruktur sedang sampai berat yang basah (lembab) dengan ketinggian tempat 200-1.500 m dpl dan curah hujan 750-1.000 mm/tahun. Dapat dibiakkan dengan pols dan stolon yang panjangnya 20-30 cm.

Rumput Signal atau BD (Brachiaria decumbens)

Ciri dari tanaman tahunan ini adalah sebagai rumput gembalaan yang tumbuh menjalar dengan stolon membentuk hamparan lebat yang tingginya sekitar 30-45 cm, memiliki daun kaku dan pendek dengan ujung daun yang runcing, mudah berbunga dan bunga berbentuk seperti bendera. Jenis rumput ini tumbuh baik pada kondisi curah hujan 1000-1500 mm/tahun dan merupakan jenis rumput penggembalaan terbaik di Kongo.

Rumput Brachiaria humidicola

Merupakan rumput penggembalaan yang memiliki daun memanjang dan bertekstur halus dengan warna hijau agak mengkilap dan kaku. Tumbuh menghampar dan berkembang dengan stolon.  Jenis rumput ini tumbuh baik pada ketinggian 600 m dpl dengan curah hujan 2.500 mm/tahun.  Tanaman ini dibiakkan dengan sobekan rumpun (pols) dan bisa tumbuh baik dengan sentro.

Rumput Rhodes (Chloris gayana)

Tanaman ini berasal dari Afrika timur dan selatan. Merupakan jenis rumput berumur panjang dan membentuk rumpun yang lebat. Rumput ini berkembang dengan stolon yang membentuk akar-akar pada buku-bukunya. Rumput ini mudah tertekan oleh jenis rumput-rumput yang lebih agresif seperti Cynodon plectostachyus. Tinggi tanaman bisa mencapai 60-150 cm. Rumput ini dapat tumbuh pada tanah berstruktur ringan sampai berat dengan ketinggian tempat 0-3.000 m dpl dan bercurah hujan 762-1.270 mm/tahun. Mudah dikembangkan dengan biji. Kebutuhan biji 8-9 Kg/ha tergantung jarak tanam yang digunakan.

Rumput Bintang Afrika (Cynodon plectostachyus)

Tanaman tahunan berstolon yang tumbuh cepat menutup tanah membentuk hamparan yang padat.  Tinggi tanaman bisa mencapai 120 cm. Jenis rumput ini berasal dari Afrika timur tetapi umum terdapat di daerah-daerah tropis. Cukup tahan terhadap penggembalaan. Dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan ketinggian tempat yang rendah dan curah hujan berkisar 500-800 mm/tahun. Rumput ini peka terhadap pemupukan N. Biasanya diperbanyak dengan sobekan rumpun (pols) atau stolon. Jenis rumput ini disukai oleh ternak.

Gamal (Gliricidia sepium)

Tanaman gamal/cebreng adalah salah satu hijauan sumber protein, sebagai tanaman pagar, cadangan pada musim kemarau dan penyubur tanah.  Tanaman ini memiliki ciri sebagai tanaman berkayu, bentuk daun majemuk bersirip genap dan helaian daun berbentuk alips dengan ujung runcing, warna daun hijau keperakan dan bunga berbentuk kupu-kupu kecil dalam kumpulan dengan warna merah muda, di tengah bendera dan mahkota bunga berwarna kuning. Tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada tempat yang memiliki tanah kurang subur dengan ketinggian tempat 0-1.300 m dpl dan curah hujan 650-3.500 mm/tahun. Biasanya diperbanyak dengan stek batang. Daunnya cukup disukai oleh ternak sebagai sumber protein.

Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Tanaman legum berkayu yang berumur panjang ini tingginya bisa mencapai 10 m. Berasal dari Amerika tengah (Meksiko) dan Amerika Selatan. Berakar dalam, daun menyirip ganda, anak daun ellips agak oval dan kecil. Warna daun hijau tua agak kelabu. Tumbuh baik pada tanah sedang sampai berat dengan ketinggian tempat 700-1.200 m dpl dan curah hujan berkisar 700-1.650 mm/tahun. Jenis legum ini bisa dijadikan sebagai sumber protein bagi ternak.

Kaliandra (Calliandra chalotyrsus)

Tanaman berkayu yang banyak hidup di hutan-hutan sebagai tanaman serapan air. Dapat dikembangkan dengan biji.  Tanaman ini memiliki daun majemuk dengan warna batang merah. Jenis legum ini memiliki bunga dengan warna merah menyala. Daunnya sangat disukai oleh kambing dan domba.

Turi (Sesbania grandiflora)

Sejenis tanaman semak yang bisa mencapai tinggi 5-10 m dan tumbuh cepat di daerah tropis yang lembab. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m dpl dengan curah hujan 2.000 mm/tahun. Tanaman ini banyak ditanam di pematang sawah. Jenis legum ini memiliki bunga berukuran besar dan berwarna putih tapi ada pula yang merah dan ungu. Daun berukuran bulat kecil dan majemuk. Buahnya berbentuk polong yang panjang. Merupakan sumber vitamin seperti pro vitamin A, B, C dan E dan sumber mineral terutama Ca dan P.

Sentro (Centrosema pubescens)

Tanaman legum yang berumur panjang.  Batang-batangnya tumbuh menjalar dan bagian ujungnya melilit. Jenis legum ini memiliki bunga besar berwarna ungu dan berdaun 3 buah berbentuk oval pada setiap tangkai. Tumbuh pada tanah berstruktur ringan sampai sedang dengan ketinggian tempat 0-1.000 m dpl dan curah hujan 1.300 mm/tahun. Tanaman ini cukup tahan terhadap tanah asam dan kekeringan. Mudah ditanam dengan biji dan kebutuhan biji untuk penanaman berkisar 4-6 Kg/ha. Tanaman ini dapat ditumpang sarikan dengan rumput Benggala atau Brachiaria.

Kacang Asu (Calopogonium mucunoides)

Tanaman ini tumbuh menjalar dan bisa memanjang sampai 30-50 cm. Tanaman ini beradaptasi pada tanah yang basah dan tidak tahan terhadap kekeringan. Batang dan daun yang muda berbulu, berwarna coklat keemasan. Bentuk daun bulat dan berkelompok 3 dalam satu tangkai. Bunganya kecil berwarna ungu. Jenis legum ini kurang disukai oleh ternak karena daun dan batangnya berbulu. Biasa ditanam dengan biji dengan kebutuhan 6-9 Kg/ha. Dapat ditanam dengan rumput Rhodes dan Brachiaria.

Kacang Ruji (Pueraria phaseoloides)

Tanaman ini berasal dari India timur yang sudah tersebar di daerah-daerah tropis. Merupakan tanaman tahunan yang tumbuh menjalar dengan stolon membentuk hamparan dengan panjang mencapai 60-75 cm. Sangat baik untuk dipergunakan sebagai penutup tanah. Tidak tahan terhadap penggembalaan berat. Tanaman ini memiliki perakaran yang dalam (1-6 m). Bentuk daun tanaman ini lebar, bulat dan meruncing di bagian ujungnya. Daun-daun yang masih muda tertutup bulu yang berwarna coklat. Setiap 3 helai daun berkelompok dalam satu tangkai. Bunga tanaman ini berwarna ungu kebiruan. Jenis legum ini tidak tahan terhadap penggembalaan berat. Tanaman ini tahan terhadap tempat teduh dan dapat tumbuh pada tanah dengan struktur ringan sampai berat dengan ketinggian tempat berkisar 0-1.000 m dpl dan curah hujan 1.270 mm/tahun. Dapat diperbanyak dengan stek dari batang yang sudah tua dengan panjang minimal terdiri 3 buku/stek. Selain dengan stek, tanaman ini dapat diperbanyak dengan biji dengan kebutuhan 3-4 Kg/ha. Legum ini sangat disenangi oleh ternak.

Desmodium hijau daun (Desmodium intortum)

Tanaman tahunan yang tumbuh melilit dan memanjat. Jenis legum ini memiliki perakaran yang dalam. Merupakan legum terbaik untuk padang penggembalaan tanpa irigasi di Tuchila, Nyasaland. Tanaman ini berasal dari Brazilia. Bentuk batang persegi, bertekstur kasar dan memilki panjang ruas 3-11 cm. Daun bagian atas berwarna coklat kemerahan sampai ungu. Setiap 3 helai daun berkelompok dalam satu tangkai. Bunga tanaman ini berwarna merah jambu. Jenis legum ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah kecuali tanah asin tetapi toleran terhadap keadaan asam dan genangan air. Tanaman ini tumbuh pada ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dengan curah hujan 900 m dpl. Legum ini dapat diperbanyak dengan stek atau biji dengan kebutuhan 2-3 Kg/ha.

Stylo (Stylosanthes guyanensis)

Tanaman ini berasal dari Amerika tengah dan selatan. Merupakan tanaman tahunan yang tumbuh tegak membentuk semak dengan ketinggian 100-150 cm dan cenderung berkayu. Tanaman ini memiliki batang yang kasar dan daun yang berkelompok dimana dalam setiap tangkai terdapat 3 helai daun. Perakaran jenis legum ini sangat dalam.  Tanaman ini toleran terhadap tanah kurang subur. Selain itu legum ini juga tahan terhadap daerah kering atau basah tetapi tidak tahan terhadap naungan. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 0-1.000 m dpl dengan curah hujan > 850 mm/tahun. Untuk perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan biji atau stek.

Nangka (Artocarpus heterophyllus)

Tanaman berkayu yang bisa mencapai ketinggian 10-25 m. Daun menumpu segitiga bulat telur. Daun biasanya tidak berlekuk, hanya daun pada pohon muda dan tunas air dengan lekuk besar tangkai 1-4 cm. Helaian daun memanjang atau bulat telur terbalik berwarna hijauu tua mengkilat. Batangnya berkambium dengan warna kuning, bergetah. Buahnya semu menggantung pada ranting yang pendek dari cabang atau cabang utama, bentuk telur memanjang, atau bentuk ginjal dengan duri tempel yang runcing segi tiga, berbau  manis yang keras. Daunnya sangat disukai oleh kambing.

Ubi Kayu (Manihot esculenta)

Jenis tanaman yang memiliki umbi yang cukup disukai oleh ternak. Memiliki daun yang bersekat 5-6 bagian memanjang berwarna hijau tua kelabu dengan tulang daun yang terlihat jelas. Batang tanaman ini terdiri dari buku-buku dengan bagian dalam berwarna putih dan beronggga. Daun dan umbinya sangat disukai oleh kambing dan domba. Daunnya mengandung sianida yang dalam jumlah banyak bisa menjadi racun bagi ternak. Untuk mengurangi kadar sianida dalam daun bisa dengan cara melayukan daun sebelum diberikan kepada ternak.

Pisang (Musa paradisiaca)

Tanaman herba menahun dengan akar rimpang, tinggi 3-7 m. Helaian daun membentuk lanset memanjang, mudah koyak dan panjang sekitar 1-1.5 m. Pada bagian bawah daun berlilin. Memiliki bunga berkelamin satu, berumah satu dalam tandan. Biasanya ternak menyukai bagian daun dan batang yang sudah dicacah-cacah.

Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)

Tanaman jenis perdu dengan tinggi 2-4 m. Daun bergerigi, memiliki tulang yang jelas, berwarna hijau mengkilap dan mengandung lendir. Termasuk tanaman hias karena memiliki bunga yang menarik dengan warna merah. Daunnya cukup disukai oleh domba.

Pepaya (Carica papaya L.)

Merupakan tanaman buah yang sering dibudidayakan baik di perkebunan ataupun di pekarangan. Bentuk daun lebar dan bergerigi dengan warna hijau tua dan tulang daun terlihat jelas. Pada bagian tangkai, batang dan buah yang masih mentah cukup banyak mengandung getah yang berwarna putih. Tanaman ini memiliki bunga berwarna kuning cerah dan beraroma. Buah dari tanaman ini memiliki banyak biji di dalamnya dan saat buah mulai matang maka daging buahnya akan berwarna merah. Biasanya tanaman ini dibiakkan dengan menggunakan biji. Daun dan buahnya cukup disukai oleh ternak.

 

1. Nilai Gizi Hijauan

Kriteria nilai gizi pakan ada pada komposisi zat-zat pakan dan daya cernanya. Komposisi zat-zat pakan dalam hijauan dipengaruhi oleh perbandingan daun dan batang, umur panen, kesuburan tanah dan iklim. Umumnya hijauan yang mengandung serat lebih banyak berasal dari kelompok rumput-rumputan sedangkan kandungan protein banyak terdapat pada hijauan kelompok kacang-kacangan. Secara umum komposisi zat-zat pakan yang terkandung dalam beberapa hijauan untuk wilayah Indonesia adalah sebagai berikut :


Tabel 1. Komposisi Zat-zat Pakan Beberapa Hijauan

Keterangan :

BK                  : Bahan Kering                                                              SK                   : Serat Kasar

TDN               : Total Digestible Nutrients                                  ME                 : Metabolisme Energy

PK                  : Protein Kasar                                                              Ca                  : Calsium

P                     : Phosphor

2. Kebutuhan Hijauan Untuk Ternak Domba-Kambing

Kebutuhan bahan pakan pada ternak dipengaruhi oleh bobot badan, jenis kelamin, umur, status masa fisiologis dan tujuan budidaya (pebibitan atau penggemukan). Terdapat 2 prinsip yang harus dipenuhi dalam hal pemberian pakan pada ternak yaitu mengetahui kebutuhan pakan ternak dan mengetahui komposisi zat-zat yang terkandung dalam pakan yang diberikan. Secara teori pemberian hijauan untuk ternak adalah 10 % dari bobot badan ternak tetapi realita di lapangan pemberian hijauan ada yang sampai pada jumlah sama dengan 20% dari bobot badan ternak. Pada hijauan yang berumur muda terdapat kandungan 40% selulose dan hemiselulose dari bahan kering dan 25% karbohidrat yang larut dalam air terutama fruktosa-fruktosa. Semakin tua umur hijauan (rumput) maka semakin tinggi proporsi selulose dan hemiselulose dan semakin berkurang karbohidrat yang larut dalam air. Selulose dan hemiselulose tidak dicerna oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh hewan ruminansia tetapi dicerna oleh jasad renik yang juga dapat mencerna pati dan karbohidrat yang larut dalam air. Oleh karena itu ruminansia mencerna dengan baik serat kasar yang ada pada hijauan. Jumlah hijauan yang dibutuhkan untuk setiap umur ternak berbeda. Pada masa menjelang penyapihan (umur 2-3 Bulan), ternak mulai belajar mengkonsumsi hijauan dan pada saat penyapihan kebutuhan hijauan mulai meningkat seiring dengan bertambahnya bobot badan domba. Seperti halnya pada domba sapih, untuk domba dewasa betina dan jantan juga diberikan hijauan sesuai dengan bobot badan. Untuk domba bunting akhir dan masa laktasi, konsumsi hijauan meningkat menjadi 1,5 kali dari kebutuhan domba induk (dewasa) karena pada masa tersebut domba membutuhkan sumber energi metabolisme lebih banyak untuk dijadikan energi produktif (pertumbuhan janin dan penghasil air susu). Pada realita di lapangan, kombinasi rumput-rumputan dengan jenis hijauan lain seperti daun pepaya, katuk, gamal, kaliandra dan lamtoro sangat baik diberikan pada domba masa menyusui (laktasi).


Tabel 2. Kebutuhan Zat Pakan Untuk Domba Berdasarkan Bahan Kering

Jenis Domba

Komposisi Zat Pakan Ternak Yang Dibutuhkan

Bahan Kering (%)

Energi

Protein Kasar  (%)

Ca (%)

P (%)

TDN (%)

DE (Mkal/Kg)

ME (Mkal/Kg)

Betina

1. Hidup pokok

2. Kering

3. Laktasi

Jantan

2. Anak

2. Dewasa

1.6-2.0

1.9-2.2

3.0-4.8

2.4-4.5

3.5-6.0

55

55

58-65

55-65

64-73

2.4

2.4

2.6-2.9

2.4-2.9

2.8-3.2

2.0

2.0

2.1-2.4

2.0-2.4

2.3-2.6

8.9

9.0

9.3-11.5

8.9-10.2

11.0-16.0

0.30

0.22

0.52

0.31-0.35

0.31-0.40

0.28

0.21

0.37

0.16-0.19

0.16-0.27

Keterangan : Sumber dari  NRC tahun 1975

TDN = Total Digestible Nutrient (total daya cerna zat makanan, DE = Digestible Energy (energi tercerna),

ME = Metabolism Energy (energi  metabolis)

Tabel 3. Kebutuhan Zat Pakan Untuk Kambing Berdasarkan Bahan Kering (Intensif manajemen dan daerah tropis)

Bobot Kambing

Komposisi Zat Pakan Ternak Yang Dibutuhkan

Bahan Kering (%)

Energi

Protein Kasar

(Protein total)

(g)

Ca (%)

P

(%)

TDN (Kg)

DE (Mkal/Kg)

ME (Mkal/Kg)

10

20

30

40

50

0.36

0.60

0.81

1.01

1.19

0.199

0.334

0.452

0.560

0.662

0.87

1.47

1.99

2.47

2.92

0.71

1.20

1.62

2.02

2.38

27

46

62

77

91

1

2

2

3

4

0.7

1.4

1.4

2.1

2.8

Keterangan : Sumber dari  NRC tahun 1981

TDN = Total Digestible Nutrient (total daya cerna zat makanan, DE = Digestible Energy (energi tercerna),

ME = Metabolism Energy (energi  metabolis)

3. Pastura

Berbagai hijauan dapat dikelola dalam suatu sistem pastura. Kata Pastura berasal dari istilah asing (Bahasa Inggris) yaitu dari kata “Pasture” yang berarti padang rumput. Latar belakang adanya pastura dalam sebuah peternakan adalah untuk persiapan sumber nutrisi dasar dan keberlanjutan persediaan hijauan dengan kualitas dan kuantitas yang baik untuk ternak. Kondisi lahan area pastura sangat menentukan cara dan tempat penyajian hijauan. Pada lahan yang memiliki kemiringan labil (≥ 23 %) menyebabkan domba sulit untuk digembalakan sehingga penyajian hijauan ditempatkan di kandang dengan cara dibentuk sebagai rumput potongan yang diletakkan di kokopan.

Berdasarkan cara pengadaannya, rumput dibedakan menjadi 2 macam yang terdiri dari rumput potong (zero grazing) dan rumput gembalaan (grazing). Contoh rumput potong antara lain rumput Gajah, rumput Raja, rumput Meksiko, rumput Benggala, rumput Setaria, rumput Panic dan rumput Sudan.  Sedangkan contoh rumput gembalaan antara lain rumput Signal, rumput BH, rumput Ruzi, rumput Rhodes, rumput Bermuda, rumput Australia, rumput Kolonjono dan rumput Pangola.

Setiap hijauan memiliki sifat-sifat agronomis tertentu. Sifat-sifat ini meliputi produksi dan kualitas, daya tahan, daya asosiasi dengan tanaman lain dan cara perbanyakan. Untuk kelompok rumput-rumputan biasanya diperbanyak melalui penanaman stek atau pols sedangkan untuk jenis kacang-kacangan dapat disebar dengan benih, stek pucuk atau batang.

Faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi pastura antara lain adalah :

a. Iklim (Suhu, kelembaban, curah hujan, presipitasi dan angin)

b. Kesuburan tanah (sifat fisik dan kimia tanah)

c. Jenis (spesies) hijauan (genetik)

d. Manajemen pastura (sistem pemeliharaan, rotasi dan stocking)

Teknik budidaya hijauan tidak berbeda dengan tanaman budidaya lainnya seperti tanaman pangan atau perkebunan di lahan kering.

a. Perencanaan luasan lahan pastura

Luasan lahan pastura yang akan dibuka tergantung pada populasi dan kebutuhan ternak. Kebutuhan hijauan harian dan produktivitas lahan menentukan luasan per tanaman yang akan dipanen dalam satu hari sehingga umur panen menjadi faktor pembagi dari total luasan pastura yang akan dibutuhkan.

L =  P x U + (20%( P x U))*

V                        V

Keterangan :    *  = untuk lahan miring

L  =  Total luasan lahan produksi pastura (m2)

P  =  Jumlah kebutuhan hijauan harian (Kg)

V  = Produktivitas lahan (Kg/m2)

U  = Umur Panen (Hari Setelah Pangkasan Sebelumnya)

Untuk menjaga keseimbangan populasi tanaman maka dibutuhkan luasan untuk pembibitan rumput seluas 1-2 unit luasan harian sehingga total luasan lahan pastura adalah luasan lahan produksi ditambah luasan pembibitan.

Contoh :

Pak Anis adalah seorang peternak yang memiliki 100 ekor ternak domba. Setiap ternak membutuhkan 5 Kg/ekor/hari. Jika jenis hijauan yang akan ditanam Pak Anis adalah rumput Gajah dengan asumsi produktivitas 5 Kg/m2 dengan umur panen 45 hari yang ditanam di lahan datar maka berapa total luasan lahan yang harus disediakan oleh Pak Abid?

Jawaban :

Total Luasan Lahan =  (5 Kg/ekor/hari x 100 ekor) x 45 hari = 4.500 m2

5 Kg/m2

Khusus untuk lahan penggembalaan biasanya luasan total dibagi ke dalam beberapa bagian atau pangonan yang lebih sempit (paddock). Jumlah dan luasan paddock disesuaikan dengan jumlah ternak dan produktivitas lahan hijauan. Biasanya jumlah paddock berkisari 4-6 dan jumlah ini dijadikan sebagai satu periode penggembalaan.

1

 

2

4

3

Ada 4 hukum penggembalaan Voisin yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan luasan lahan untuk penggembalaan :

Hukum 1                : Dibutuhkan interval yang cukup antara 2 perenggutan

yang berturut-turut.(IVoisin: 18-36 hari)

Hukum 2                : Periode penggembalaan sebaiknya 4-6 hari.

Hukum 3                : Tinggi rumput rata-rata 25 cm memungkinkan sapi-sapi

memperoleh rumput berkualitas tinggi. (daerah tropis

dengan campuran rumput-legum : 37,5 – 45 cm)

Hukum 4                : Untuk sapi perah, tidak boleh tinggal lebih dari 3 hari di

petak yang sama. (Hasil maksimal diperoleh jika sapi

tinggal di satu petak hanya 1 hari)

Keterangan :

Menurut Voisin, dengan mengikuti dua hukum pertama dapat menjadikan produksi rumput paling sedikit dapat diduakalikan sedangkan dua hukum terakhir dapat meningkatkan 20-30 % produksi per ekor

Sistem-sistem Penggembalaan :

i. Penggembalaan Kontinyu : Ekstensif, lahan sama, pertumbuhan hijauan tidak terkontrol.

ii. Penggembalaan Bergilir : Intensif, lahan permanen dan temporer, terdiri dari petak-petak. (24 ekivalen sapi/ha atau 168 ekor domba-kambing/ha dengan  lama penggembalaan 3-7 hari per petak).

iii. Penggembalaan Anak-Induk Bergilir : Anak ternak terlebih dahulu merumput sebelum induk.

iv. Penggembalaan Jalur : Intensif, menggunakan pagar listrik.

v. Penggembalaan Pantang : Menyisihkan petak-petak padang penggembalaan tertentu untuk digunakan pada fase tertentu seperti ’standing hay’.

Contoh :

Pak Heru memiliki ternak sebanyak 100 ekor. Jika Pak Heru ingin menggunakan sistem penggembalaan bergilir dengan lama penggembalaan per petak adalah 7 hari, lama satu periode penggembalaannya adalah 5 minggu dan produktivitas lahannya sama dengan 3 Kg/m2 maka berapa luasan lahan penggembalaan yang harus disediakan oleh Pak Heru?

Jawab :

Luasan lahan yang harus disediakan adalah :

=    100 ekor x  5 Kg/ekor/hari x  7 hari x 5 minggu =  5.833, 3 m2

3   Kg/m2

b. Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan dimulai dengan pembukaan lahan melalui pembersihan lahan (land clearing). Kriteria pembersihan lahan ini harus bersih dari perakaran dan batang tanaman sebelumnya terutama alang-alang (Imperata cylindrica) atau putri malu (Mimosa pudica). Setelah dilakukannya pembersihan lahan dilanjutkan dengan penggemburan tanah. Untuk menjamin ketepatan pemberian pupuk maka dilakukan analisa tanah. Jika kondisi pH tanah asam maka harus dilakukan pengapuran. Pada tahapan penggemburan ini dibuat jarak tanam disesuaikan dengan kesuburan tanah dan besar tajuk tanaman yang dibudidayakan. Semakin subur lahan yang digunakan maka jarak tanam akan semakin dekat dan sebaliknya semakin kurus lahan maka akan semakin jauh jarak tanam antar tanaman. Jarak tanam yang dapat digunakan untuk beberapa hijauan adalah sebagai berikut :

i. Rumput Gajah : 75 x 60, 100 x 50, 100 x 100, 90 x 60-150 dan 100 x 30 cm2.

ii. Rumput BD : 30 x 30 dan 45 x 45 cm2

iii. Gamal dan Lamtoro : 2,5 – 3 x 2,5 – 3 m2

Setelah penggemburan dilakukan maka dilanjutkan dengan membuat jalur tanam.Untuk lahan miring maka jalur dibuat membentuk guludan dengan arah mengikuti kontur lahan. Tinggi dan lebar guludan ditentukan oleh cara penyajian dimana untuk rumput potong seperti rumput raja dan gajah maka tinggi guludan yang digunakan 30-50 cm dengan lebar guludan disesuaikan dengan jarak tanam sedangkan untuk rumput gembalaan, guludan tidak terlalu tinggi (10-15 cm) dengan lebar 1-1,5 m membentuk bedengan.

X              X              X              X                              X X  X   X X  X  X  X

X X  X   X X  X  X  X

X              X              X              X                              X X  X  X  X  X  X  X

X X  X  X  X  X  X  X

X              X              X              X

Gambar 1. Pertanaman rumput potong                           Gambar 2. Pertanaman rumput gembala dan kacang-kacangan yang ditanam dengan stek

c. Pemupukan

Setelah dilakukan pembuatan jalur tanam maka tahapan selanjutnya adalah pemupukan awal yang terdiri dari pupuk organik yaitu pupuk kandang dan pupuk dasar yang terdiri dari TSP dan KCl. Waktu pemupukan awal dilakukan 1-2 Minggu Sebelum Tanam (MST).

Tabel  4. Jenis dan pupuk untuk pemupukan awal rumput :

Jenis Hijauan

Jenis dan Dosis Pupuk

Kapur Pertanian

Pupuk Kandang**

TSP

KCl

(Kalsit)*

Ayam

Domba

(Ton/ha)

(Ton/ha)

(Ton/ha)

(Ton/ha)

(Ton/ha)

Rumput Gajah

0.7-0.9

15

30- 40

0.15

0.15

Rumput Bede

-

15

30-40

-

-

Keterangan : *   = digunakan jika tanah memiliki pH ≤ 5.5

**  = jenis pupuk kandang  yang digunakan dalam satu kali tanam adalah salah satunya.

d. Penanaman

Persiapan bibit sebelum penanaman sangat penting diperhatikan meliputi kegiatan pemilihan (seleksi), pengangkutan dan penyimpanan bibit sebelum tanam. Bibit hijauan yang biasa digunakan adalah stek batang, stek pucuk atau pols (sobekan rumpun). Adanya masa dormansi pada biji rumput dan beberapa kacang-kacangan memberi jalan dilakukannya pembiakan secara vegetatif. Untuk jenis rumput gajah dan raja, bibit yang biasa digunakan adalah batang bagian bawah dengan jumlah buku 2-3 buku/stek yang berasal dari tanaman yang sudah tua (3– 24 Bulan setelah tanam). Sedangkan untuk bibit rumput BD dibiakkan dengan sobekan rumpun (pols) yang berumur 2–3 minggu setelah pangkasan sebelumnya. Untuk gamal/cebreng dan kaliandra dibiakkan dengan menggunakan stek batang yang tua. Bibit yang dipilih harus dalam keadaan segar dan bakal tunas tidak mengalami kerusakan. Pengangkutan bibit dalam jumlah besar harus dilakukan secara hati-hati supaya bibit tidak mengalamai kerusakan. Langkah terakhir yang harus diperhatikan dalam persiapan bibit sebelum tanam adalah penyimpanan selama sebelum ditanam. Tempat penyimpanan bibit dalam bentuk stek batang harus di tempat teduh dengan posisi yang teratur atau tidak menumpuk dan untuk menjaga kesegaran bibit maka waktu penyimpanan tidak lebih dari 3 hari.

Setelah bibit siap tanam maka langkah selanjutnya adalah menanam bibit tersebut sesuai dengan jarak tanam yang digunakan dan posisi yang mengarah pada arah timur-barat. Untuk jumlah bibit yang biasa ditanam adalah 1-2 stek/lubang tanam. Penyulaman tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1-2 MST dengan kriteria jumlah tanaman yang tidak tumbuh sebanyak 5-10 % dari total populasi. Pemupukan urea pada tanaman rumput gajah dilakukan pada saat tanaman berumur 3-4 MST atau pada saat muncul daun ke-2. Dosis pupuk urea yang diberikan adalah 200 Kg/ha.

e. Pemeliharaan

Pemeliharaan hijauan terdiri dari penyiangan, pemupukan lanjutan dan penyiraman pada musim kemarau. Pada tanaman rumput gajah atau raja, penyiangan dilakukan setiap setelah 3 kali panen dengan kriteria pertanaman bersih dari gulma seperti alang-alang dan putri malu. Pemupukan pupuk kandang lanjutan dilakukan setiap 2-3 kali panen tergantung pada jenis pupuk kadang yang digunakan. Untuk pupuk kandang ayam, pemberian dilakukan setiap setelah 2 kali panen dan pupuk kandang domba diberikan setiap setelah 3 kali panen.

f. Pemangkasan dan Sistem rotasi

Pemangkasan pertama dilakukan pada umur 80-90 HST dan untuk pemangkasan selanjutnya dilakukan pada  umur 45-60 HSP (Hari Setelah Pangkasan Sebelumnya) tergantung pada musim. Pada musim hujan, pemangkasan lanjutan bisa dilakukan pada umur 45-50 HSP sedangkan pada musim kemarau, interval waktu pemangkasan lebih lama yaitu 60-70 HSP. Intensitas pemangkasan dalam setahun dilakukan sebanyak 7-9 kali panen. Tinggi pangkasan mempengaruhi pertumbuhan tanaman setelah dipangkas. Jarak 5-10 cm dari permukaan tanah cukup baik mempengaruhi pertumbuhan anakan. Luasan unit yang dipanen dalam satu hari ditentukan oleh produktivitas lahan dan kebutuhan pakan ternak pada hari tersebut. Adanya perputaran jadual panen (rotasi) untuk setiap luasan unit dapat mempermudah teknik penentuan luasan panen harian dan pemeliharaan.

g. Daya Tampung Terhadap Ternak (DTT)

Baik lahan penggembalaan maupun hijauan potong, keduanya memiliki kapasitas tampung terhadap ternak yang beragam tergantung dari produktivitas lahan hijauan dan kebutuhan hijauan harian per ekor ternak yang dipelihara dalam satu tahun. Berikut adalah perhitungan Daya Tampung Terhadap Ternak :

DTT (Ekor/tahun) =              Produksi    Hijauan   Per    Tahun

Kebut. Hijauan Ternak Per Tahun

4. Pengawetan Hijauan

Penyajian hijauan bisa dalam bentuk segar atau olahan (diawetkan). Untuk penyajian secara olahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara membuat hay atau silase. Hay dibuat dengan cara mengeringkan hijauan sampai kadar air sekitar 22 %. Sedangkan silase dibuat dengan cara membuat kondisi fermentasi anaerob dari hijauan yang dilayukan. Berikut adalah cara pembuatan silase.

Komposisi bahan untuk pembuatan silase antara lain :

a. 100 Kg Rumput potong

b. 3 Kg Mollase

c. 1.5 liter Air

Alat yang digunakan antara lain :

a. Tong plastik

b. Ember

c. Alat ukur

Cara membuat silase :

a. Siap dan layukan hijauan yang akan dibuat silase

b. Buat lapisan hijauan setinggi ± 5 cm kemudian siram dengan larutan mollase di dalam tonk plastik

c. Padatkan dan buat lapisan selanjutnya dengan cara yang sama dan padatkan kembali sampai bahan habis

d. Tutup dengan rapat tanpa rongga dan tunggu sampai 21 hari.

Ciri fisik silase yang sudah jadi :

a. Warna hijau kecoklatan

b. Bau harum

Tidak berjamur

15 Responses to Bahan Pakan Ternak

  1. asrul says:

    mas, kalau buat palet untuk pakan ternak ada kita tau… salam dari asrul makassar?

  2. ibnu says:

    dimana kita bisa memperoleh bibit-bibit rumput di atas.

  3. kami menyediakan rumput gajah SUPER, Pendek, Lemas, Lunak, sangat disukai domba, kambing.

  4. mardiana says:

    ada yang tau gak dengan rumput humbai

  5. frengky says:

    lo bs dgn kandungan nutrisix……..mksh

  6. frengky says:

    bisa tdk hijauan itu di berikan pd kambing yg disapihkan pd umur 1 bln dgn catatan kecernaan serat kasarx tinggi

  7. wisnu says:

    kalo mau beli bibit Brachiaria humidicola dan semak Centrocemapubescens (kacang Kupu) dimana ya mas?. Dan bahasa indo tuk rumput Brachiaria humidicola itu apa ya mas? Makasi.

  8. hermawan says:

    kami butuh bibit rumput BD dan centro, apakah punya pak?

  9. Nur Avivi says:

    rumput rhodes dan benggala di lihat sekilas mirip ya mas,,,
    lebih besarkan mana rhodes dari benggala,,,?
    cara membdakannya gmana…..?

  10. fairuuuuz says:

    makasih banyak arrikelnya sangat membantu. :)

  11. kirei_na says:

    kalau saya ingin beternak dengan rumput pakan ternak produksi sendiri MANA YG DIDULUKAN ternaknya dulu atau tanam rumputnya dulu……..makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s